Forum Studi Majapahit merupakan salah satu stake holder yang ikut memprkarsai berdirinya komunitas Gema Perdamaian yang merupakan sebuah gerakan untuk menyadarkan manusia betapa pentingnya hidup rukun dan harmonis dengan sesama manusia, alam dan segala isinya. Gerakan perdamaian ini didorong oleh hati nurani untuk peduli terhadap situasi perjalanan peradaban baik yang berupa sejarah maupun yang terjadi belakangan ini di seluruh dunia khususnya di Indonesia dengan adanya berbagai hentakan bencana kemanusiaan sejak tahun 2001. Keberbedaan yang merupakan fakta hidup, baik beda karena agama, ras, suku dan beda lainnya bukanlah bahan dan panggung untuk melakukan pertentangan, perkelahian, perselisihan dan lain sebagainya yang seolah anti damai.
Kehidupan terasa sesak dengan tiadanya damai melandasi kehidupan. Dimana-mana penuh dengan pertentangan, perpecahan, kebencian, perkelahian di hampir semua lini atau segmen kehidupan bermasyarakat, terlebih peperangan juga masih dianggap sebagai langkah yang cepat, praktis serta merta mudah diputuskan. Demokratisasi yang kita harapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat namun saat ini masih berada pada tataran euphoria dan yang mengemuka justru perseteruan yang tiada habisnya antar kelompok masyarakat.
Sangatlah terasa bahwa peradaban saat ini berjalan didominasi oleh ego yang dibenarkan oleh arogansi rasionalitas dalam segala wujud ciptanya. Manakala kita hening dan berusaha mendamaikan diri, hati nurani dengan halus dan penuh kasih membisikkan bahwa bukan ini yang sebenarnya yang ingin kita ciptakan dan yang ingin kita cari. Peradaban yang tanpa damai akan percuma. Damai adalah dasar yang paling mendasar. Dengan damai hidup lebih bermanfaat dan hidup terasa lebih indah.
Damai bukanlah monopoli keinginan individu atau kelompok tertentu saja. Damai adalah keinginan mendasar semua insan. Rasa damai adalah keadaan dan keberadaan di hati nurani kita. Kita semua ingin damai, hal ini perlu diingatkan bersama untuk kita wujudkan bersama dalam kehidupan kita sehari-hari.
Acara ini dimulai pada awal tahun 2003. Sejak bencana kemanusiaan peristiwa bom tahun 2002, masyarakat mengalami keresahan yang berkepanjangan. Banyak kalangan masyarakat merasakan perlunya untuk melakukan sesuatu. Perlu upaya edukasi dan penyadaran bahwa kita bersaudara. Bahwa perbedaan adalah fakta hidup namun hakikatnya satu sebagaimana motto ideologi Pancasila yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai jawabannya bahwa damai itu perlu upaya maka dilakukan berbagai aktivitas damai. Lalu dibuatlah acara yang dapat mengakomodasi rasa tersebut dan mampu menggaungkan perdamaian, mampu membangun mindset damai yang kokoh di masyarakat. Acara ini menampilkan kealamiahan dan mengakrabi perbedaan. Acara yang menghormati perbedaan lalu bersama-sama berikthiar dan berdoa memohon agar kedamaian senantiasa ada di dalam hati dan dalam prilaku.
Acara tersebut dinamakan GEMA PERDAMAIAN (bhs Inggris :Echo of Peace). Gema Perdamaian diselenggarakan pada hari Sabtu terdekat sebelum tanggal 12 Oktober yang merupakan simbol bahwa kita harus senantiasa melakukan tindakan preventif serta eling lan waspada. Lalu menjaga rasa eling tersebut senantiasa, sebagai bentuk kesadaran antisipatif jikalau kita ingin memelihara keadaan damai yang kondusif.
Beberapa anak bangsa dari beberapa kalangan (sekarang duduk pada steering committee) lalu menyediakan dirinya untuk menginisiasi dan ngayah karena keterpanggilan hati mereka.
Acara Gema Perdamaian BUKANLAH untuk memperingati kejadian bencana kemanusian ledakan bom di Kuta. Sudah ada acara peringatan lain di Ground Zero. Untuk itu Gema Perdamaian akhirnya diikrarkan untuk menjadi acara tetap tahunan. Menjadi hari pengingat, menjadi tonggak penyegar upaya perdamaian yang diupayakan dan dirindukan semua pihak.
PEMILIK ACARA GEMA PERDAMAIAN
Acara ini menjadi milik masyarakat Bali untuk terus ditumbuhkembangkan. Acara ini diselenggarakan secara bergilir di antara kelompok – kelompok agama, Sampradaya maupun kelompok kepercayaan sesuai kesediaan yang tulus dan iklas serta dianggap mampu dan netral (non partisan).
Penjamin atau pengempon acara ini adalah para inisiator Gema Perdamaian dan pendukung-pendukung pokok lainnya seperti FKUB, Forum Etnis Nusantara di Bali, kelompok semua agama, Forum Silahturahmi Keraton Nusantara – Bali, Yayasan Pancer Langiit, IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association), Bali Villa Association, Dewan Persatuan Pasraman Bali, Aliran Kepercayaan dan seluruh Sampradaya yang ada di Bali. Sejak awal April 2016 Komunitas Gong Perdamaian yang bermarkas di Kertalangu Kesiman – Denpasar dengan sesadar-sadarnya bersama Komunitas Gema Perdamain bersama-sama sepakat untuk bekerja sama. Dan Komunitas Gong Perdamaian sepakat sebagai salah satu stake holders Gema Perdamaian.
Tujuan dan Cita-cita Gema Perdamaian
- Menggaungkan doa dan vibrasi hening perdamaian ke dalam diri, pelaksana, peserta dan hadirin dari acara ini, mengisi kosmis sehingga bisa menyebar ke seluruh Bali, Indonesia dan ke seluruh dunia, sehingga diharapkan energi damai dan kasih ini dapat melingkupi seluruh kehidupan kita dan hidup kita sehari-hari dapat lebih berlandaskan hening, rasa damai dan kasih tersebut.
- Sebagai wahana edukasi masyarakat sehingga terbentuk mindset damai, mengenal perbedaan sebagai fakta alam nyata yang tak terbantahkan dan dapat hidup saling menghormati dan menghargai di masyarakat.
- Simbolisasi menyatunya keperbedaan dengan tampil apa adanya sesuai dengan etnisitas dan peribadatan masing-masing, lalu menyatu dalam acara yang sama yaitu doa perdamaian.
- Tempat berkumpul dan menyatunya anak bangsa untuk menjalankan panggilan nuraninya tanpa terbedakan oleh agama/kepercayaan yang dianutnya, suku, adat – istiadat, warna primordial, status atau ragam/mosaik cara pandang lainnya.
- Menjadikan Gema Perdamaian sebagai acara tahunan yang tidak akan pernah berakhir masanya, sebagaimana manusia senantiasa mengupayakan dan mengingatkan dirinya untuk menjaga hening dan kedamaian hati sebagai dasar sikap dan perbuatannya.
- Menjadikan Gema Perdamaian sebagai ikon Bali – Indonesia sehingga dapat lebih dikenal di seluruh dunia dan dapat memberikan inspirasi kepada dunia.
- Sejalan dengan salah satu misi Pariwisata Bali untuk menjadikan Bali sebagai destinasi Wisata Spiritual, maka Gerakan Gema Perdamaian sangatlah relevan dan menunjang visi tersebut, karena Gema Perdamaian selain diselenggarakan oleh masyarakat Bali dan Indonesia juga menyertakan peran serta aktif Spiritualis asing setiap tahunnya.
- Acara ini diharapkan dapat dilaksanakan di provinsi lain pada tanggal dan waktu yang sama sehingga diharapkan dampak gaung dan Gema Perdamaian bisa lebih besar. Kendatipun dilakukan tidak pada hari yang sama, hendaknya ada relevansi dengan situasi setempat, sepanjang nilai dasarnya adalah perdamaian. Kita tahu dan semakin yakin bahwa perdamaian itu harus diperjuangkan, bukan jatuh dari langit.
https://www.facebook.com/groups/856896441072776