Manusia memiliki Tri Pramana (Bayu, Sabda dan Idep), Idep adalah yang membedakannya dengan makhluk lainnya, Guna yang dapat dijadikan alat untuk memuliakan dirinya sebagai manusia, sekaligus dapat menjatuhkannya apabila tidak dapat digunakan secara baik. Pada dasarnya, Hindu mengajarkan untuk melaksanakan Ahimsakarma, yakni untuk tidak menyakiti dirinya, di luar dirinya, maupun lingkungannya, yang termasuk dalam Palemahan, Pawongan dan Parahyangan, melalui fikiran, ucapan dan perilaku asubhakarma. Dalam (kitab Sarasamuccaya.2) disebutkan kemuliaan lahir sebagai manusia :
“Manusah sarvabhutasu varttate vai cubhacubhe, acubhesu samavistam subhesvevavakarayet”
“Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang cubhacubha-karma, kuneng panentasakena ning cubhakarma juga ikangcubha-karma, phalaning dadi wwang“
Terjemahan :
“ diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk. Leburlah ke dalam perbuatan buruk itu. Demikianlah phalanya menjadi manusia”
Untuk itu, sepatutnya setiap manusia berpegang teguh pada jalan Dharma, dan mampu menghindari, mengatasi kecenderungan zaman yang mempengaruhi Tri Guna-nya, untuk tidak melaksanakan enam jenis subhakarma, yang dikenal dengan istilah Sad Atatayi;
- Agnida: menyakiti dengan cara membakar hak milik orang lain, mengadu domba, meledakkan.
Contoh: Dalam kisah Mahabharata, rumah kardus Ibu Kunti dan Panca Pandawa yang dibakar oleh Duryodhana. - Visada: menyakiti dengan cara meracuni.
Contoh: Dalam kisah Mahabharata, Duryodhana yang memberikan makanan beracun pada Bima, dll. - Atharva: menyakiti dengan menggunakan ilmu hitam,
Contoh : Dalam kisah Mahabharata, Sakuni menggunakan tulang ayahnya untuk membuat dadu yang kemudian digunakan dalam permainan dadu bersama Panca pandawa, di Ruang pertemuan Hastina Pura. - Sastraghna: menyakiti dengan mengamuk membabi buta
Contoh: Dalam kisah Mahabharata, Aswatama yang mengamuk ingin melenyapkan seluruh keturunan Panca Pandawa, sehingga melepaskan Brahmastra, ke dalam kandungan Uttari, sehingga bayinya meninggal dalam kandungan. - Dratikrama: menyakiti dengan cara memperkosa
Contoh: Dalam kisah Mahabharata, Upaya Dussasana menyeret dan menelanjangi Drupadi dengan menarik rambut dan kainnya ke hadapan Pertemuan agung pada permainan dadu di Hastina Pura. - Raja Pisuna: menyakiti dengan cara memfitnah
Contoh: Dalam Kisah Mahabharata, Karna menyebut Drupadi sebagai pelacur sebab memiliki lima suami pada akhir permainan Dadu di Hastina Pura.
Oleh Ni Wayan Sri Prabawati Kusuma Dewi,M.Pd.H