Ada apa dgn bangsa ini ?
Menampilkan tiga tokoh papan atas yg ” didaulat ” oleh Prof. Sumanto Al Qurtuby, pengajar di Universitas Fadh, Arab Saudi. Dalam laman medsosnya Prof. Qurtuby dgn jenaka mengucapkan terima kasih kepada : Ahmad Safii Maarif, Franz Magnis Suseno dan Ida Rsi Wisesanatha yg menyebut ketiga tokoh itu sebagai guru bangsa.
Pada acara dialog kebangsaan hari itu, tampak hadirin yg kebanyakan dari pegiat dan juga tokoh budaya Nusantara sangat anthusias mendengarkan penuturan ketiga tokoh. Belum lagi ditambah dgn kepiawaian Prof. Qurtuby sbg moderator yg tampil sangat humoris, sering membuat hadirin tergelak tertawa di antara keseriusan topik yg dibahas.
Mengawali dialog, Ida Rsi Wisesanatha mengatakan bahwa ada energi buruk dlm berbagai wujudnya berusaha menghambat evolusi perkembangan manusia dgn peradabannya. Seharusnya manusia seiring dgn perjalanan waktu sudah semakin mengenal kasih sbg dasar kesadarannya yg lantas menjadi budi melandasi akal sehingga manusia memiliki akal budi.
Energi buruk ini melawan kehendak alam dan akan berhadapan dgn alam. Manusia-manusia pengemban energi buruk ini akan dgn sendirinya menabrak tembok. Itu adalah jalan yg menyakitkan yg bisa terjadi. Manusia masih berputar-putar suka bermain di kesadaran duniawi, emosi dan rasio saja. Bangga dgn rasio dgn segala macam teorinya. Yg menarik, tanpa sadar juga rasionya digilas dogma scr kejam atas nama agama atau Tuhan.
Manusia masih belum yakin akan Tuhannya. Pula belum begitu paham hakekat dirinya shg mudah dibohongi dan dikibuli atas nama Tuhan dan agama. Bahkan rela membunuh manusia lainnya demi sorga dan demi kenikmatan dirinya atau kelompoknya.
Disampaikan lebih lanjut bahwa revolusi spiritual kolektif akan mampu mengentaskan situasi ini. Ini adl. Maha karya alam. Akan muncul ilmu kepemahaman hidup yg hakiki yg didasari oleh Budi.
Dalam turbulensi masa transisi ini, Pancasila terasa semakin besar perannya. Semakin mendesak dibutuhkan pemimpin2 bangsa yg mampu menjadi tauladan pelaksanaan ideologi Pancasila. Saat ini memang belum banyak yg paham. Jangankan sosok figur utuh bangsa yg disimbolkan dgn burung Garuda, dgn makna philosofis arah tolehan kepala, jumlah bulu, warna burung serta makna Bhinneka Tunggal Ika yg filosofik dan dalam, wong sila2 dari Pancasila sering dilupakan dan kepemahamannyapun baru sebatas hafalan 5 sila saja.
Penampilan kharismatik Ida Rsi Wisesanatha membuat hadirin senyap dan menyimak dalam. Disampaikan lebih lanjut bahwa segala yg terjadi sekarang ini adl semacam vaksin. Kalau kita lengah maka bangsa akan jatuh sakit. Kita harus survive, bahkan bisa tampil lebih kuat untuk bangkit melawan penyakit dan pengkhianat bangsa. Kita harus bersatu. Pancasila harus dikawal lewat sikap kita yg nasionalistik dan berbasiskan akal budi atau budi pekerti yg hakiki dan universal.
Setelah itu, Buya Ahmad Safii Ma’arif, tampil tegas memukau. Tegas menyampaikan NKRI dan Pancasila harga mati. Anak bangsa mesti siuman dari tidur panjangnya. Hati2 jangan main radikal2an. Bangsa ini bisa pecah perang saudara. Budaya toleransi dan saling menghormati harus dibangkitkan lagi. Personil2 Lembaga eksekutif, legislatif serta yudikatif harus berjiwa negarawan bukan lagi kampret atau cebong, ucap beliau jenaka.
“Saya rekomen wakil rakyat di Senayan nanti mengundang kami bertiga sehingga bisa kami ingatkan hal2 mendasar tersebut. Bangsa ini sebenarnya kritis krn yg dirusak adalah hal2 yg fondamental. Demikian juga mental korupsi harus segera dihentikan kalau kita semua mau selamat.
Lain gaya, Romo Franz Magnis tampil sejuk menyampaikan bahwa Indonesia ini sangat kaya dgn corak ragam budayanya. Tak ada duanya di dunia. Kita harus sering menampilkan budaya luhur kita. Lalu dgn kesadaran penuh untuk memelihara serta mengembangkannya. Anak bangsa perlu jeli di dalam mengadopsi budaya luar. Anak bangsa perlu lebih yakin diri bahwa budaya Nusantara sungguhlah luhur….
Selanjutnya acara tanya jawab yg direspon luar biasa oleh hadirin sampai2 terasa kekurangan waktu. Singkat kata, hadirin sangat bersemangat dan sepakat bahwa sikap nasionalisme, cinta bangsa dan bela bangsa sangat urgen untuk ditumbuhkan.
Budaya bangsa perlu dijaga. Seharusnya anak bangsa bangga dgn budaya Nusantara yg luar biasa. Waspada dgn berbagai upaya cuci otak yg diam2 hanya menciptakan pengkhianat bangsa dan membuat tatanan dan budaya bangsa bisa runtuh.
Dialog ditutup dgn meditasi singkat oleh Ida Rsi Wisesanatha. Hadirin hening dan tampak beberapa terisak menangis terinduksi mantram yg dibawakan Ida Rsi. Sebagian lagi terbatuk – batuk mendadak. Akhirnya semua berangkulan terharu dan saling menyalami dan menguatkan….
Jakarta, 17 Juli 2019




