• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Dharma Yatra FSM

Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

by Admin FSM April 9, 2017
April 9, 2017
https://www.facebook.com/forumstudimajapahit/videos/g.401169636750649/148613275561353

Dalam rangkaian perjalanan Merah Putih di bulan Juni 2016, beberapa team FSM melakukan perjalanan spiritual menuju Goa Selomangleng. Beberapa dari sesepuh yang berkesempatan hadir pada saat itu menerima wahyu dari Empu Prapanca dan Rsi Markandeya berkaitan dengan kebangkitan spirit nusantara…

Goa Selomangleng Tulungagung terletak di dusun Sanggrahan Kidul, desa Sanggrahan, kecamatan Boyolangu. Dari pemukiman warga berjarak sekitar 500 meter, berada di tepi dusun. Jalur menuju lokasi cukup mudah. Setelah melewati jalan setapak, kebun, dan ladang dusun,

Goa Selomangleng sebenarnya goa atau lobang buatan yang berada di sebuah batu andesit hitam besar. Lobang bangunan goa berjumlah dua. Dua lobang ini berada di dua sisi batu andesit hitam besar. Goa pertama hadap barat, berbentuk rongga segiempat, berhias relif yang terpahat pada dinding bagian utara dan timur. Relief ini menggambarkan episode dalam kakawin Arjunawiwaha, yaitu kisah ketika Dewa Indra menugaskan para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila.

Berdasarkan ulasan Zoetmulder, kakawin Arjunawiwaha mengisahkan seorang raksasa bernama Niwatakawaca yang sedang mempersiapkan diri menyerang kahyangan Dewa Indra. Lantaran raksasa itu tak dapat dikalahkan, baik oleh dewa maupun golongan raksasa lain, Dewa Indra meminta bantuan bangsa manusia. Dan Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila ditetapkan sebagai Sang Jagoan Dewa. Untuk memastikan Sang Jagoan benar benar sosok unggulan, Dewa menguji Arjuna dengan mengirim bidadari. Maka dipanggil tujuh bidadari berkecantikan menakjubkan. Kedua bidadari terpenting bernama Dewi Suprabha dan Dewi Tilottama. Mereka semua mendapat titah mengunjungi Arjuna, menggunakan segala rayuan untuk menggoda keteguhan Sang Jagoan Dewa. Maka para bidadari utusan Dewa segera turun menuju gunung Indrakila tempat Arjuna tapa. Tetapi setelah sekuat upaya menggoda, para bidadari gigit jari alias gagal menggoda Sang Jagoan Dewa.

Penuh rasa kecewa para bidadari pulang kampung naik kayangan, melapor kegagalan itu pada Dewa Indra. Kegagalan para bidadari itulah yang sebenarnya diharapkan. Dewa Indra gembira karena Arjuna tidak mempan goda. Artinya sangat layak dimajukan sebagai Sang Jagoan Dewa menghadapi raksasa Niwatakawaca. Itu sekilas kisah penggambaran relif pada bangunan pertama goa Selomangleng Tulungagung yang asri klasik ini.

Naik ke atas tebing di sisi timur goa Selomangleng, terdapat bangunan batu berbentuk kaki dan datur candi berdenah segi empat, berukuran panjang 490 cm, dan lebar 475 cm. bagunan ini seperti bekas candi atau altar. Belum diketahui pasti fungsi bangunan ini.


Sejarah dan Keistimewaan Goa Selomangleng

Goa Selomangleng merupakan objek wisata populer di Kotamadya Kediri yang berada di utara kota dan dilengkapi akses jalan raya yang mulus, tersedia angkutan kota dan dekat dengan universitas serta SMA Negeri di Kota Kediri.

Dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng bukit (Jawa=>Selo=Batu, Mangleng=Miring), kira-kira 40 meter dari tanah terendah di kawasan. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, sehingga nampak cukup menyolok dari kejauhan.

Keistimewaan Gua Selomangleng

Sepintas tidak ada yang istimewa di gua batu ini, keunikan baru terlihat begitu mendekati pintu gua. Beberapa meter dibawah mulut gua terdapat beberapa bongkahan batu yang berserakan. Sebagian diantaranya terdapat pahatan, menandakan bahwa tempat ini sudah pernah disentuh manusia. Berbagai corak relief menghiasai dinding luar gua, diantaranya ada yang berbentuk manusia.

Melongok ke dalam gua, suasana gelap gulita dan aroma dupa yang cukup menyengat datang menyambut pengunjung. Tidak heran bila ada beberapa pengunjung yang takut atau berfikir panjang sebelum memutuskan untuk memasukinya. Kesan mistis terasa kental sekali saat berada di dalamnya. Beberapa pengunjung nampak buru-buru keluar setelah tidak lama memasuki ruang karena, dikarenakan tidak kuat dengan aroma dupa yang menyengat.

Gua yang terbuat dari batuan andesit ini menjadikannya kedap air. Tidak ada stalagtit maupun stalagmit yang umum dijumpai pada gua-gua alam. Terdapat tiga ruangan dalam gua, dari pintu masuk kita akan tiba di ruangan utama yang tidak begitu lebar dengan sebuah pintu kecil di sisi kiri dan kanan untuk menuju ruangan lain dari dalam gua.

Di dalam gua ini banyak sekali dijumpai relief yang menghiasi dinding gua. Diperlukan penerangan tambahan untuk bisa melihatnya dengan jelas. Saya sendiri menggunakan sinar lampu dari telepon genggam yang kebetulan bisa difungsikan sebagai lampu penerangan (senter). Pada dasar lantai banyak sekali ditemukan bunga-bunga sesajen berwarna merah dan kuning yang masih segar. Suatu pertanda bahwa tempat ini cukup sering digunakan untuk mengasingkan diri, bertapa atau tirakat bagi kalangan masyarakat tertentu.

Memasuki ruangan sebelah kiri dari pintu masuk gua, pengunjung mesti sedikit merangkak dikarenakan ukuran pintunya yang cukup kecil. Ketika mencoba memasuki ruangan tersebut, praktis cahaya yang ada semakin minim dikarenakan tidak adanya penerangan pada ruang tersebut. Ditambah ruangannya yang kecil dengan atap yang rendah sehingga kesan sempit dan sumpek mendominasi suasana dalam ruangan tersebut. Sulit kali untuk melihat apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut. Ketika mencoba menelusuri dinding gua dengan penerangan dari telpon genggam, barulah terlihat bahwa bagian dalam gua tersebut juga memiliki relief-relief yang senada dengan bagian luar gua.

Berbeda dengan ruang sebelah kiri gua, pada sisi kanan gua, terdapat relief pada bagain atas dari pintu masuk. Mirip dengan relief yang sering menghiasi bagian atas dari pintu masuk candi. Ruangan ini sedikit lebih lebar dari sisi kiri. Pada dinding gua, terdapat bagian yang menonjol dengan cerukan kecil dibagian bawahnya, membentuk tungku. Sebatang dupa yang masih menyala nampak berada didalam tungku tersebut, menebarkan aroma menyengat yang memenuhi seluruh ruangan. Relief-relief yang ada masih bisa terlihat cukup jelas untuk dinikmati.

Sejarah Gua Selomangleng

Dari cerita yang beredar, Gua Selomangleng dulu pernah digunakan oleh Dewi Kilisuci sebagai tempat pertapaan. Dewi Kilisuci adalah putri mahkota Raja Erlangga yang menolak menerima tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya, dan lebih memilih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan cara melakukan tapabrata di Gua Selomangleng.

Terlepas dari gelap dan pengapnya suasana dalam gua, objek wisata Gua Selomangleng patut dikunjungi saat anda berada di Kediri. Tak jauh dari lokasi gua ini juga terdapat museum Airlangga yang merupakan museum purbakala yang bisa dikunjungi dan banyak sekali menyimpan benda-benda arkeologi berupa patung/arca. Dan sekarang, Goa Selomangleng diberi fasilitas lain seperti kolam renang dengan aneka wahananya dan juga arena bermain anak.

Selain mengunjungi goa pengunjung juga dapat “sedikit” olahraga dengan naik ke Gunung Maskumambang yang hijau dan asri serta banyak terdapat ayam hutan yang berada di samping Museum Airlangga. Untuk naik gunung, pengunjung tidak berlu bersusah – susah karena telah dibangun tangga untuk naik ke atas.

Atau pengunjung yang ingin mencoba tantangan dapat naik ke atas Gunung Klothok yang dipuncaknya terdapat sumber mata air yang bernama ‘Elo’. Selain berwisata sejarah, pengunjung dapat berwisata outbound, jadi badan bisa sehat dan wawasan akan sejarahpun bertambah.

Selomangleng berasal kata dari Selo artinya “Batu” dan mangleng artinya “Menggantung”. Jadi Selomangleng adalah batu yang menggantung. Kata “Selomangaleng” biasanya dihubungkan dengan nama “Goa” yaitu Goa Selomangaleng, hal ini dikarenakan goa tersebut terdapat pada batu yang menggantung, seperti misalnya di Kediri terdapat “Goa Selomangleng” yang terletak di kaki Gunung Klothok, Desa Waung, Kota Kediri. Sepanjang jalan menuju goa tersebut setelah perempatan Sukorame melewati beberapa sekolah yaitu SMA Negeri 5 kediri dan Universitas Kadiri. Goa Selomangleng di kota Kediri menurut sejarah merupakan goa tempat peristirahatan “Dewi Kilisuci”
[http://wisata-kotakediri.com/news/wisata-keluarga/kolam-renang-selomangleng.html]

Di sebelah goa, terdapat kolam renang. Kolam renang selomangleng merupakan salah satu objek wisata keluarga yang ada di kota kediri. Kolam renang selomangleng merupakan tempat pemandian keluarga yang menyediakan fasilitas lebih dari kolam pemandian yang ada di kota kediri,selain kolam tersebut bernuansa alam kolam-kolamnya juga menyediakan fasilitas khusus bagi anak-anak seperti seluncuran,kolam khusus anak2 dan masih banyak lg yg lain nya,kolam renang selomangleng juga menerapkan fasilitas keamanan yang cukup ketat terbukti dengan banyaknya pelampung dan banyaknya petugas kolam jadi anda tidak perlu kuatir dengan keselamatan keluarga anda.
Kolam renang selomangleng terletak di bawah wisata gua selomangleng tepat nya di kaki gunung klotok,jadi begitu anda memasukinya nuansa alam sangat kental sekali udara alam sekitarpun masih terasa sangat segar sekali.jika anda berlibur bersama keluarga tidak ada salahnya anda mengunjungi wisata kolam renang selomangleng.

Rahasia Goa Selo Mangleng

Julukan goa pertapaan Dewi Kilisuci adalah Selo Bale, artinya kurang-lebih bangunan tempat tinggal. Goa inilah pusat perhatian di masa pemerintahan Baginda Erlangga 1035-an sewaktu beliau memutuskan turun takhta dan menjadi pertapa di lereng gunung Penanggungan.

Dalam kurun singkat beberapa minggu pada1990-an siapa pun yang mengunjungi goa batu alami di punggung gunung Klotok sebelah Timur segaris lurus dengan Goa Selomangleng akan menjumpai seorang lelaki berusia delapan puluhan. Tampilannya biasa saja seperti petani, ia tidak mengenakan apapun selain celana panjang dan baju safari, pakaiannya itu pun tampak sudah tua.

Lelaki itu berambut putih, bertubuh langsing, wajahnya tampak berseri-seri. Ia tidak banyak bicara kalau tidak ditanya.
“Bapak tinggal sendirian di sini sedang melakukan apa?”

“Saya hanya menjaga tempat ini atas perintah kraton Solo. Di sinilah tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang sebenarnya, dan bukan di Goa Mangleng di bawah sana, itu hanya museum belaka,” katanya penuh keyakinan. “Kami dari kraton Solo menganggap leluhur kami berasal dari sini (dari Kediri, Jawa Timur).” Ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa tempat itu harus dijaga saat ini. Ia mengalihkan pembicaraan pada bangunan di luar goa, tepatnya di seberang jurang menganga di lubang goa berukuran empat kali lima meter itu. Mengenai sedikit hipotesis mengenai misteri goa Selo Mangleng yang belum pernah dipublikasikan baca tulisan kami yang lain di blog ini berjudul, “Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo”.

“Di tiga ceruk batu itulah para prajurit kerajaan bertugas mengawasi tempat ini,” ujarnya. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Memang samar-samar tampak dinding bukit batu tegak lurus terdapat goa-goa kecil yang berukuran mini. “Tempat ini dulu tidak seperti ini, Ada jalan penghubung antara penjaga di seberang dan goa Selo Bale ini. Wilayah ini sekarang dikuasai pihak militer dan dijadikan ajang latihan perang-perangan menggunakan amunisi sungguhan. Mortir atau meriam biasa digunakan jika sedang masa latihan pada tahun 70-an. Dan senapan serbu laras panjang tidak terhitung lagi jumlah pelurunya yang berhamburan di sini.”

Memang benar semua itu, penduduk di kawasan ini sudah tahu hal itu dan menganggap sebagai hal biasa. Memang tidak ada unsur kesengajaan dari militer untuk merusak situs itu, akan tetapi situs itu secara tak langsung terkena dampak buruknya.

“Goa Selo Bale inilah yang benar-benar jadi tempat pertapaan putri Erlangga itu, bukan di Goa Selo Mangleng, itu hanya museum semata-mata,” ujar lelaki tua mengulangi apa yang sudah dikatakannya belum beberapa bentar, kembali suaranya terdengar mantap dan meyakinkan.

“Dulu tempat ini tidak sedalam ini, hanya sampai sebatas sini,” katanya menunjuk lantai goa. “Orang-orang yang mencari harta-karun mencoba menggali dinding ini hingga bertambah sekitar setengah meter. Tampaknya tidak berhasil mendapatkan apapun.”

“Sampai sekarang orang belum berhasil menemukan peninggalan heboh kerajaan Kediri. Mungkin berada di balik bukit ini!” katanya serius, sambil menunjuk suatu sudut punggung gunung. Jika kita berjalan melingkari bukit dan tiba di balik bukit itu memang terdapat air terjun kecil, Tretes. Dan di seberang sana sebelah selatan terdapat daerah dengan julukan Gemblung, bila orang berjalan di atas daerah itu seolah ada suara dari dasar tanah berbunyi “bung, bung, bung.” Mungkin ada semacam ruang bawah tanah berukuran besar.

Di balik bukit sebelah timur terdapat sumber air suci Gunung Klotok, tempat itu terkenal dengan sebutan Sumber Loh, karena di hulu aliran air yang lumayan deras itu kebetulan terdapat sebatang pohon Lo berukuran raksasa, dan dari lobang-lobang di sekitar akar pohon itulah awal mula mata air yang terus memancar sepanjang masa, tak kenal musim, dan tak kenal jaman.

Beberapa tahun kemudian jika orang tersasar atau sedang mendaki gunung Klotok dan tiba di tempat itu akan menjumpai kembali goa tersembunyi itu sunyi seperti sediakala. Tidak seorang pun berada di sana. Sesunyi sebuah goa misteri yang lain di balik bukit yang sama tempat itu disebut “Goa Kikik”, arti harfiahnya kurang lebih goa mini. Barangsiapa mencari goa yang satu itu akan kesulitan menemuinya karena tiada bedanya dengan bongkahan batu biasa saja. Akan tetapi goa itu memang asli pahatan tangan nenek-moyang di masa silam. Goa Kikik seperti garis pertahanan lain dari arena perbukitan itu untuk memapak pendatang dari jurusan barat laut yang sedang mengarah ke Goa Selo Bale.

Sumber: asalusulgoaselomangleng.co.id

Gallery
Berkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng TulungagungBerkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung
dharma yatragoa selomanglengtulungagung
2 komentar
0
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
Valentine Blood Donation
next post
Penurunan Aksara Suci di Pura Klenting Sari Menjangan

Artikel Terkait

Ritual Panekek Bali Dwipa di Lombok

July 31, 2020

Ritual Panekek Bali Dwipa dan Penegteg Jagat

July 19, 2020

Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

February 3, 2020

Gempa Disaat Dharmayatra di Pura Kancing Gumi

December 22, 2018

Pemasopatian Benda Suci Menyongsong Peradaban Baru

December 11, 2018

Team FSM Mekemit di Pura Batu Kursi

December 6, 2018

Tangkil ke Pura Pancering Jagat Bali ring Trunyan

April 9, 2017

Penurunan Aksara Suci di Pura Klenting Sari Menjangan

April 9, 2017

Penganugerahan Aksara Suci di Pura Turus Gunung

April 8, 2017

2 komentar

Mokhamad Yaurizqika Hadi October 17, 2018 - 2:00 pm

menarik sekali. tetapi pertanyaan saya hingga saat ini yang masih belum terjawab . Goa selomangleng meruapakan tempat suci bagi penganut hindu kan , admin?. tetapi pertanyaan saya hingga saat ini di benak saya.
saya penganut islam , saya muslim. meskipun beraliran Kejawen. saya melakukan laku pertapaan di lokasi tersebut dengan doa doa islam. saya bermimpi dansingkat cerita saya mendapat keris . sebenarnya dalam laku pertapaan saya masih ada satu keris lagi di puncak goa, keris Nogo Sosro tetapi saya tidak mampu memperolehnya.

pertanyaan saya berarti agama meski berbeda apakah jalannya satu ? dngan cara islam saya bisa mendapatkan barang di lokasi tersebut aadmin.

Balasan
muammarriyadhi June 8, 2019 - 10:31 am

Kenapa penjelasannya campur aduk antara goa selomangleng di kediri dan yang di tulungagung, padahal Kan keduanya beda. Mohon direvisi ya min

Balasan

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.