Perjalanan spiritual kali ini kami lakukan munuju Pura Batu Kursi di daerah utara pulau Bali. Tujuan dari perjalanan ini
adalah untuk memohon sinar suci para dewa dan para leluhur nusantara agar para penghuni pulau Bali ini tercerahkan sehingga dapat menjaga pulau Bali ini tetap damai, aman dan tentram. Dimohonkan agar para pemimpin dan para pemegang kekuasaan di Bali ini selalu mempertimbangkan segala sesuatunya untuk kesejahteraan masyarakat dan alam Bali.
Ritual khas FSM berupa penurunan aksara suci dilakukan untuk para bhakta agar selalu sadar membawa wadag menjadi sang pencerah sesuai dengan karma masing-masing. Selalu dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran, welas asih dan memiliki etika dasar mengelola diri dalam berpikir, berucap dan bertindak. Wejangan dan pengajaran tersebut disampaikan oleh Ida Rsi Wisesanatha setelah persembahyangan bersama.
Sekilas Perjalanan Menuju Pura Batu Kursi
Setelah perjalanan panjang dari Denpasar sekitar 3 Jam kami tiba di kaki Bukit Kursi yang saat ini sedang gersang dilanda kekeringan. Tangkil ke pura ini, para pemedek harus menyiapkan stamina yang fit, karena harus menapaki ribuan anak tangga dan perjalanan agak menanjak walaupun tidak ada tanjakan terjal, tetapi butuh waktu dan usaha ekstra untuk bisa menikmati keindahan yang disuguhkannya. Sekitar 50 meter dari pelataran parkir kendaraan, ribuan anak tangga sekitar 700 meter menanti anda. Siapkan juga makanan dan minuman karena di puncak bukit belum ada pedagang. Menapaki tangga demi tangga yang berada di lereng dan di punggung bukit, tidak akan terasa karena sepanjang perjalanan anda disuguhi pemandangan menarik dan berhenti sejenak dan bersiap untuk foto selfie.
Areal Pura Bukit Kursi
Terdapat 2 pelinggih dan 2 altar didalam area pura tepatnya didepan batu besar yang bentuknya menyerupai kursi. Satu bale bengong dan pesandekan dengan ukuran sekitar 10 meter x 3 meter dengan pemandangan indah ke arah lautan lepas diantara perbukitan asri. Beberapa tangga dibawah pura terdapat toilet dan tempat mandi dengan air yang cukup bersih. Listrik dan lampu tersedia sepanjang jalan menuju pura dan tersedia disekitar pura Batu Kursi.
Mekemit
Rombongan team FSM setelah sembahyang bersama langsung mekemit diarea dalam pura. Karena cuaca sangat cerah kami tidak perlu membawa tenda, cukup tikar, bantal dan sarung tidur saja. Pada malam hari angin cukup kencang disana, beberapa rekan kami tidak bisa memejamkan mata karena suara angin cukup keras.
Lokasi Pura Bukit Kursi
Pura Batu Kursi berlokasi di bukit perbatasan Banjar Kembang Sari dan Banjar Pala Sari, Desa Pakraman Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Jarak dari Denpasar cukup jauh sekitar 123 km, sedangkan dari objek wisata Lovina berjarak 46 km. Tempat-tempat populer yang berdekatan dengan Bukit Batu Kursi ini adalah Pura Pemuteran, Pura Pulaki, Pura Melanting dan juga Pulau Menjangan, sehingga jika mengunjungi lokasi ini dengan tujuan wisata rohani Tirtayatra anda bisa mengunjungi sejumlah tempat terdekat tersebut, dari letaknya posisi pura Bukit Batu Kursi ini berada di belakang Pura Pemuteran (Pura Mutering Jagat).
Asal Mula Nama Pura Bukit Kursi
Dinamakan Batu Kursi dikarenakan pada bagian puncak bukit berdiri sebuah pura yang mana terdapat sebuah batu besar berdiameter sekitar 20 meter dan berbentuk kursi. Di pura ini berstana Bhatara Lingsir Bagawan Cakru Geni yang masih ada kaitan dengan Pura Pucak Manik kata Jro Mangku setempat.
Pada awalnya sekitar tahun 1984, menurut penuturan Jro Mangku tidak ada yang menyadari bahwa batu tersebut berbentuk seperti kursi, warga hanya menganggap batu gunung biasa, keberadaannya baru ketahuan setelah seorang paranormal bernama Jro Nyoman Cara mengalami kerauhan atau trance saat melakukan tapa di batu tersebut. Termasuk juga ada seorang Anak Agung dari Puri Pamecutan menerima wangsit bahwa sekitar bukit tersebut terdapat sebuah batu berbentuk kursi atau Batu Makorsi, dari petunjuk-petunjuk niskala tersebutlah akhirnya baru disadari keberadaan tempat ini.
Banyak hal-hal unik dan aneh juga yang sering ditemukan di kawasan pura Bukit Kursi di Pemuteran ini, seperti jejak cakar harimau yang sangat besar pada sebuah pohon enau yang dipercaya bahwa penguasa yang bersatana di pura ini sedang mempertajam kuku.










