• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Dharma Yatra FSM

Melukat di Pura Beji Batukaru

by Admin FSM April 8, 2017
April 8, 2017

Pelukan Religius dikaki Gunung Batukaru

Pernah kita mendengar “ Betara ngoyong kone uber” (Tuhan diam kok ya dikejar). Jujur saja…. diantara kita pastinya pernah kan menerima pertanyaan ataupun pernyataan seperti itu? Lalu apakah kita marah menanggapinya? Menganggap sebagai bentuk penghinaan? Atau kita diam tanpa jawaban bersikap masa bodo? Ataukah kita menjelaskan panjang lebar sehingga berkesan pembelaan diri? Itu hak pribadi setiap orang untuk menilai orang yang senang melakukan tirtayatra ataupun perjalanan-perjalanan spiritual ke luar daerah atau bahkan merambah ke dunia internasional.

Kembali ke pribadi diri sendiri, penilaian tidak mutlak harus benar dan sama. Ada jua yang bilang itu sekumpulan orang gila yang kurang kerjaan, menghabiskan waktu dijalan, ada yang menganggap orang tidak kekurangan uang rela menghabiskan materi untuk perjalanan yang tak mesti dijalankan. Itu jika kita pandang dari satu kacamata saja, bagaimana jika kita lihat dari sudut kacamata yang berbeda?? Bisakah kita terima alasan lain di balik pemikiran kita tadi?

Bagaimana jika itu adalah kesenangan atau hoby untuk mengujungi tempat suci lainnya? Bagaimana jika ia ke tempat itu untuk menambah koleksi foto ? atau itu adalah sebuah panggilan hati nurani? Atau mungkin saja itu sebuah tuntunan yang harus dilakukan meski sebenernya dia tidak berkeinginan untuk itu?

Jika dipandang itu gila, itu mungkin benar mungkin saja salah, jika dipandang menghamburkan materi tidak meski ketempat ibadah jika kita tidak mencari sebuah kenyamanan hati, jika itu menghabiskan banyak waktu dengan sia-sia, sepertinya dia pun berpacu dengan waktu, namun hati nuraninya menyatakan itu cukup nyaman. Akhirnya semua kembali pada nurani yang merupakan jati diri sang diri.

Bukannya bermaksud mengejar Tuhan yang sudah ada dimana-mana, bukannya berniat mencari sorga di ujung dunia sekalipun, bukannya mengejar kitab hingga kebelahan dunia yang tak terjamah, bukan pula mencari sebuah popularitas tersendiri. Dari sekian informan yang penulis wawancarai ada banyak ulasan dan pendapat yang di dapat dari sebuah fenomena ungkapan seperti yang di atas cantumkan.

Seorang penekun spiritual dari Karangasem-Bali yang enggan menyebutkan identitasnya mengatakan”jika terus berfikir begitu, nanti odalan di Pura Besakih atau pura besar lainnya, tentunya orang yang berfikir seperti itu enggan untuk pedek tangkil kesana, lalu siapa yang akan menjaga kereligiusan pura tersebut, lalu apakah kita Cuma mendengar namanya saja, dan berbagi cerita tentang tempat itu tanpa kita pernah tahu kebenarannya?”

masuk diakal, jika kita kukuh berfikir seperti pernyataan diatas, berarti kita hanya akan sembahyang dirumah saja,atau bahkan berdoa dalam hati karena Tuhanpun ada didiri kita sendiri. Penulis tidak membenarkan dan tidak menyalahkan, bisa saja begitu doa dalam hatipun tidak kalah dasyat dari deretan banten di pelinggih. Sebuah doa saja ataupun sebuah banten yang dihaturkan di pura itu sah-sah saja, namun dalam Bhagawad GitaXII, mengajarkan tentang bhakti yoga, ada dua hal yang ditanyakan Arjuna, menyembah dalam wujud abstrak, dan menyembah Tuhan dalam wujud nyata, bisa berupa arca, pratima.

Jadi sah-sah saja jika kita hanya doa tanpa harus ke sebuah pura, yaitu penyembahan dalam bentuk abstrak, mampu menanggalkan fikiran duniawi tanpa perantara apapun, atau perlu ke sebuah pelinggih atau menggunakan arca dan pratima sebagai bentuk yoga biasa untuk lebih mudah mewujudkan rasa bhakti.

Melukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji BatukaruMelukat di Pura Beji Batukaru

Dalam buku mengenal pura sad kahyangan dan kahyangan jagat, terbitan Pustaka Bali Post. Pada halaman vii( Pura = Puting Susu Lembu) disebutkan mengapa sembahyang mesti ke pura??dijelaskan disana alasan kenapa mesti kepura dan bukan hanya sekedar dirumah berdoa berdiam diri. “bagi orang tertentu, dalam melakukan sadhana, kehadiran pura bukanlah suatu syarat mutlak, namun bagi umat kebanyakan, fasilitas itu terasa penting karena memiliki keterbatasan. Pura bisa di ibaratkan seperti puting susu lembu, dalam tubuh lembu semuanya mengandung susu. Namun, untuk mendapatkan susu, orang terbatas hanya dapat mendapatkan susu lewat memerahnya langsung dari putingnya.

Demikianlah , Tuhan ada dimana-mana namun orang yang terbatas ia baru sreg kalau menghaturkan bhakti di pura. Ada pula yang mengandaikan pura seperti “warnet” agar bisa “berkomunikasi” dengan Tuhan.” Dilihat dari ulasan di atas, tersirat jelas, bukannya kita mengejar Tuhan namun, pura itu dijadikan sebagai media perantara untuk menyembah beliau, karena dimasing-masing pura berstana prabhawa Ida sang Hyang Widhi dalam manifestasi yang berbeda.

Salah seorang penekun spiritual dari sanur, memberi contoh yang gamblang yang tentunya bisa cepat dipahami” kalo saya kangen sama orang, saya akan datangi orang tersebut ke kediamannya, padahal bisa pakai hp untuk telponan atau vidio call, namun ini lebih dari sebuah komunikasi ini adalh sebuah ikatan silaturahmi” mengunjungi pura di manapun digambarkan sebagai sebuah kekangenan kita pada beliau, yang tak terpuaskan dengan memanggilnya di dalam hati, berteriak sekencang-kencangnya di dalam rumah. Kita melakukan persembahyangan juga sebuah komunikasi yang mendalam,mendatangi langsung kerumah ibadah beliau, menjalin ikatan yang erat yang hanya bisa dipahami denga hati.

Bukan sebuah ajakan, bukan pula sebuah imbauan untuk para pembaca, hanya meluruskan sesuatu yang nyaris bengkok dimakan prasangka, apapun alasannya, apapun tanggapannya kita bebas menilai dari sebuah keadaan, kita bebas beanggapan dari sebuah fenomena, asal tetap saling menjaga kenyamanan dan mampu menerima pendapat orang lain.

Berikut akan ditampilkan sebuah video perjalanan tirtayatra ke tanah Tabanan-Bali, sekumpulan anak manusia yang mencoba menyeruak masuk kedalam pelukan magic Pura Luhur Batukaru, pura yang terletak di kaki Gunung Batukaru, Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan-Bali. Letak pura sekitar 3 km dari desa Wongaya Gede dan 22 km dari jantung kota Tabanan. Atau 42 km di sebelah barat laut kota Denpasar. Pura dengan lingkungan hutan yang sejuk dengan suhu berkisar antara 24-32 derajat celcius(malam hari) memiliki curah hujan yang cukup tinggi yakni rata-rata 1,899 mm pertahun.

Pura Luhur Batukaru adalah salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat sebagai fungsi dari tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa mahadewa, dalam beberapa lontar juga disebutkan pura ini adalah stana Hyang Tumuwuh. Piodalannya datang 6 bulan sekali tepat pada hari kamis umanis dungulan- sehari setelah hari raya Galungan. Sejumlah lontar menyebutkan pura ini didirikan oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha sebagaimana tertulis dalam lontar Usana Bali. Persyaratan yang harus di ingat dan di ikuti adalh larangan “ mengajak anak yang belum ketus gigi”

Ini adalah video perjalanan semeton FSM ketika melakukan persembahyangan di Pura Luhur Batukaru. Berpelukan dengan dingin, berselimut asap dupa, dan bergantungan pada kembang di ujung jari sebagai pengantar doa dari lubuk sanubari.

“Bagaimana engkau harus merindukan Tuhan? engkau harus menangis seperti anak sapi memanggil induknya yang telah meninggalkannya bersama kawanan sapi lain. Engkau harus meratap seperti wanita setia yang kehilangan suami dan menangis sedih karena berpisah. Engkau harus menjerit memohon kepada Tuhan seperti suami istri yang tidak punya anak memohon dengan sangat agar dikaruniai aak. Begitulah sebaiknya engkau berdoa kepada Tuhan, penuh kasih serta pengabdian dan rindu ingin menghayati keberadaan-Nya dalam dirimu”(dikutip dari; Intisari Bhagawad Gita)

15/06/2015, 15;08 wita

NK Trisna(Ocha Pinguin)

batukarumelukatpurificationpurification in batukaru
0 comment
1
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
Napak Tilas ke Tanah Leluhur Nusantara
next post
Tirta Mahutama Medal Ring Pelabuhan Padangbai

Artikel Terkait

Ritual Panekek Bali Dwipa di Lombok

July 31, 2020

Ritual Panekek Bali Dwipa dan Penegteg Jagat

July 19, 2020

Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

February 3, 2020

Gempa Disaat Dharmayatra di Pura Kancing Gumi

December 22, 2018

Pemasopatian Benda Suci Menyongsong Peradaban Baru

December 11, 2018

Team FSM Mekemit di Pura Batu Kursi

December 6, 2018

Tangkil ke Pura Pancering Jagat Bali ring Trunyan

April 9, 2017

Penurunan Aksara Suci di Pura Klenting Sari Menjangan

April 9, 2017

Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

April 9, 2017

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.