Untuk menjaga persatuan & rasa kebangsaan kita, Negara harus hadir antisipatif. Gejolak hati yg tak tertahan dari situasi yg berkembang belakangan ini memaksa saya untuk menulis sambil nyruput kopi berharap agar tulisan bisa seluwes Denny Siregar 🙂
Kita semua tahu, kalau situasi bangsa kita semakin kompleks saja. Masalah datang silih berganti memancing emosi sehingga keluar dari kesabaran & kesadaran bahwa kita ini satu bangsa, kita satu tanah air dan sesungguhnya kita bersaudara.
Kenyataannya kita sangat rentan dipecah – belah. Gampang diadu bagaikan domba & mudah digiring seperti kerbau yg dicucuk hidungnya.
Kita semua prihatin. Kita semua sedih melihat keadaan ini. Tadi pagi saya terhenyak. Jangan-jangan ini adalah salah satu penyebabnya.
Saya cukup sering diundang sbg dosen tamu di bbrp universitas program MM. Pada saat mengajar, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membangkitkan kesadaran kemampuan mahasiswa dalam berpikir.
Dimulai dgn pertanyaan sederhana. Mana lebih berat besi atau kapas ?
Lebih dari 90 % atau kadang 100 % serempak menjawab besi.
Anda setuju ?
***********
Tentu saja jawabannya tak benar. Kalau kapasnya sekilo dan besi sekilo tentu beratnya sama. Akan benar besi jikalau ditanya berat jenis atau massa jenis.
Itu namanya tingkatan berpikir yg terendah yg saya sebut perception thinking. Kemampuan berpikir yg diperlukan selanjutnya disebut dgn empirical thinking. Untuk ini saya tanyakan; 2 + 2 = …? Mahasiswa mulai berpikir, mereka tampak canggung dan ragu, takut salah pikir atau dijebak spt sebelumnya. Padahal jawabannya sangatlah mudah. Setelah dipaksa & harus menjawab. Jawaban mereka beragam. Ada yg menjawab 4 dan berbagai angka yg lain dgn segala argumennya yg keminter.
Saya minta mrk untuk menetapkan hati yakin diri bahwa jawabannya adalah 4. Ya 4, sesederhana itu. Yakinlah, sekalipun diancam masuk neraka. Selanjutnya sy tanyakan; adakah jawaban matematis lain yg juga sama benarnya dgn 4 ?
Kali ini dgn yakin diri mereka menjawab serempak ” tidak ada “.
Saya menggeleng mengatakan salah. Bagaimana kalau saya menjawab ada & bahkan banyak, misalnya: 5 – 1, 6 – 2, 2 x 2 dst. Ada 1001 jawaban lainnya yg substansinya tetap 4. Semua mahasiswa kembali tertawa sambil garuk – garuk kepala. Oh my God….*?#@$
Saya jelaskan kemampuan berpikir selanjutnya yg disebut dgn emotional thinking lalu lateral thinking, multi lateral thinking, holistic thinking, supranatural thinking. Dan untuk tingkatan-tingkatan berpikir ini akan jauh panggang dari api kalau kita belum terbebas dan waspada dari perception thinking dan emperical thinking krn pengaruh malas berpikir, tak terlatih berlogika, ego, kepentingan sosial, politik, SARA dan lain sebagainya.
Mereka banyak yg terbengong dan memulai sadar akan pentingnya aspek berpikir dan berpikir yg benar.
Pada sistim pendidikan saat ini murid-murid dan mahasiswa banyak dijejali dgn hafalan – hafalan. Padahal hafalan mudah menguap. Tak tersimpan lama di otak kalau tak terkoneksikan dalam aplikasi kebutuhan hidupnya. Sehingga belajar cara itu menjadi percuma dan buang – buang waktu saja.
Itulah kemampuan mayoritas anak bangsa kita dari hasil observasi atau riset kecil saya terhadap kemampuannya untuk berpikir. Ini vital…..!!! Bagaimana anak bangsa bisa berlaku bijak yg butuh minimum level berpikir multi lateral thinking, bagaimana demokrasi bisa berjalan dengan fully participative kalau kemampuan pikir anak bangsa masih seperti besi itu. Oh my God…
Belum lagi kalau berbicara demokrasi aspek moral dan kesejahteraan adalah juga faktor berpengaruh. So kita sebenarnya memiliki permasalahan mendasar disini. Kita sebenarnya belum bisa berdemokrasi karena belum bisa berpikir dgn benar dan baik.
Singkat kata, karena keutuhan dan persatuan bangsa itu adalah mendasar dan tak boleh goyah. Maka dari fakta ini saya menghimbau para bijak, para pemegang kekuasaan baik di wilayah legislatif, eksekutif maupun yudikatif untuk lebih antisipatif. Tak main-main dengan keutuhan bangsa kita. Bisa runyam kita semua kalau basis merah putih & Pancasila kita koyak. Terlebih TNI dan Polri harus kukuh sebagai benteng Pancasila dan Merah Putih.
Pemerintah harus antisipatif. Jangan sampai rakyat sampai turun gregetan dan menimbulkan benturan horizontal seperti contoh kejadian beberapa waktu yg lalu.
Saya doakan semoga kita semua dapat melewati semua permasalahan bangsa dgn damai dan tetap memelihara rasa kesatuan persaudaraan kita sebagai bangsa Indonesia.
Hati-hati hampir semua bangsa lain tak terkecuali berkepentingan dan senang kalau kita menjadi bangsa yg lemah, bodoh dan penuh ketergantungan lalu menjadi kuli di tanah air kita sendiri.
Mari sadar…eratkan persatuan. Apapun sukumu. Apapun agamamu. Kita bersaudara. Aku cinta kamu. Mari wujudkan Indonesia jaya. Mari teriakkan Indonesia Jaya !!!!. ???
Gallery










