• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Informasi LainnyaPengetahuan dan Informasi

MANA LEBIH BERAT KAPAS ATAU BESI ??? – Perlu Dekonstruksi cara Berpikir untuk Pemberdayaan Demi Kesejahteraan dan Keadilan

by Admin FSM December 31, 2017
December 31, 2017
Persaudaraan NKRI - Gema Perdamaian

Untuk menjaga persatuan & rasa kebangsaan kita, Negara harus hadir antisipatif. Gejolak hati yg tak tertahan dari situasi yg berkembang belakangan ini memaksa saya untuk menulis sambil nyruput kopi berharap agar tulisan bisa seluwes Denny Siregar 🙂

Kita semua tahu, kalau situasi bangsa kita semakin kompleks saja. Masalah datang silih berganti memancing emosi sehingga keluar dari kesabaran & kesadaran bahwa kita ini satu bangsa,  kita satu tanah air dan sesungguhnya kita bersaudara.

Kenyataannya kita sangat rentan dipecah – belah. Gampang diadu bagaikan domba & mudah digiring seperti kerbau yg dicucuk hidungnya.

Kita semua prihatin. Kita semua sedih melihat keadaan ini. Tadi pagi saya terhenyak. Jangan-jangan ini adalah salah satu penyebabnya.

Saya cukup sering diundang sbg dosen tamu di bbrp universitas program MM. Pada saat mengajar, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membangkitkan kesadaran kemampuan mahasiswa dalam berpikir.

Dimulai dgn pertanyaan sederhana. Mana lebih berat besi atau kapas ?

Lebih dari 90 % atau kadang 100 % serempak menjawab besi.

Anda setuju ?

***********

Tentu saja jawabannya tak benar. Kalau kapasnya sekilo dan besi sekilo tentu beratnya sama. Akan benar besi jikalau ditanya berat jenis atau massa jenis.

Itu namanya tingkatan berpikir yg terendah yg saya sebut perception thinking. Kemampuan berpikir yg diperlukan selanjutnya disebut dgn empirical thinking. Untuk ini saya tanyakan; 2 + 2 = …? Mahasiswa mulai berpikir, mereka tampak canggung dan ragu, takut salah pikir atau dijebak spt sebelumnya. Padahal jawabannya sangatlah mudah. Setelah dipaksa & harus menjawab. Jawaban mereka beragam. Ada yg menjawab 4 dan berbagai angka yg lain dgn segala argumennya yg keminter.

Saya minta mrk untuk menetapkan hati yakin diri bahwa jawabannya adalah 4. Ya 4, sesederhana itu. Yakinlah, sekalipun diancam masuk neraka. Selanjutnya sy tanyakan; adakah jawaban matematis lain yg juga sama benarnya dgn 4 ?

Kali ini dgn yakin diri mereka menjawab serempak ” tidak ada “.

Saya menggeleng mengatakan salah. Bagaimana kalau saya menjawab ada & bahkan banyak, misalnya:  5 – 1, 6 – 2, 2 x 2 dst. Ada 1001 jawaban lainnya yg substansinya tetap 4. Semua mahasiswa kembali tertawa sambil garuk – garuk kepala. Oh my God….*?#@$

Saya jelaskan kemampuan berpikir selanjutnya yg disebut dgn emotional thinking lalu lateral thinking, multi lateral thinking, holistic thinking, supranatural thinking. Dan untuk tingkatan-tingkatan berpikir ini akan jauh panggang dari api kalau kita belum terbebas dan waspada dari perception thinking dan emperical thinking krn pengaruh malas berpikir, tak terlatih berlogika, ego, kepentingan sosial, politik, SARA dan lain sebagainya.

Mereka banyak yg terbengong dan memulai sadar akan pentingnya aspek berpikir dan berpikir yg benar.

Pada sistim pendidikan saat ini murid-murid dan mahasiswa banyak dijejali dgn hafalan – hafalan. Padahal hafalan mudah menguap.  Tak tersimpan lama di otak kalau tak terkoneksikan dalam aplikasi kebutuhan hidupnya. Sehingga belajar cara itu menjadi percuma dan buang – buang waktu saja.

Itulah kemampuan mayoritas anak bangsa kita dari hasil observasi atau riset kecil saya terhadap kemampuannya untuk berpikir. Ini vital…..!!! Bagaimana anak bangsa bisa berlaku bijak yg butuh minimum level berpikir multi lateral thinking, bagaimana demokrasi bisa berjalan dengan fully participative kalau kemampuan pikir anak bangsa masih seperti besi itu. Oh my God…

Belum lagi kalau berbicara demokrasi aspek moral dan kesejahteraan adalah juga faktor berpengaruh. So kita sebenarnya memiliki permasalahan mendasar disini. Kita sebenarnya belum bisa berdemokrasi karena belum bisa berpikir dgn benar dan baik.

Singkat kata, karena keutuhan dan persatuan bangsa itu adalah mendasar dan tak boleh goyah. Maka dari fakta ini saya menghimbau para bijak, para pemegang kekuasaan baik di wilayah legislatif, eksekutif maupun yudikatif untuk lebih antisipatif. Tak main-main dengan keutuhan bangsa kita. Bisa runyam kita semua kalau basis merah putih & Pancasila kita koyak. Terlebih TNI dan Polri harus kukuh sebagai benteng Pancasila dan Merah Putih.

Pemerintah harus antisipatif. Jangan sampai rakyat sampai turun gregetan dan menimbulkan benturan horizontal seperti contoh kejadian beberapa waktu yg lalu.

Saya doakan semoga kita semua dapat melewati semua permasalahan bangsa dgn damai dan tetap memelihara rasa kesatuan persaudaraan kita sebagai bangsa Indonesia.

Hati-hati hampir semua bangsa lain tak terkecuali berkepentingan dan senang kalau kita menjadi bangsa yg lemah, bodoh dan penuh ketergantungan lalu menjadi kuli di tanah air kita sendiri.

Mari sadar…eratkan persatuan. Apapun sukumu. Apapun agamamu. Kita bersaudara. Aku cinta kamu. Mari wujudkan Indonesia jaya. Mari teriakkan Indonesia Jaya !!!!. ???


Gallery

Persaudaraan NKRI - Gema Perdamaianbesi atau kapas - gema perdamaianbesi atau kapas - gema perdamaianbesi atau kapas - gema perdamaianPersaudaraan NKRI - Gema PerdamaianPersaudaraan NKRI - Gema PerdamaianPersaudaraan NKRI - Gema PerdamaianPersaudaraan NKRI - Gema PerdamaianPersaudaraan NKRI - Gema PerdamaianPersaudaraan NKRI - Gema Perdamaianbesi atau kapas - gema perdamaian
gema perdamaian
0 comment
0
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
PANDANGAN SPIRITUALIS THD REAKSI GUNUNG AGUNG
next post
Team FSM Mekemit di Pura Batu Kursi

Artikel Terkait

Merah Putih Bukan Sekedar Berani dan Suci

November 16, 2020

Selamatkan Bali dari Bencana Alam Paiketan Krama Bali...

March 3, 2020

Pewintenan Siwa Budha 3 Orang Guru FSM

February 27, 2020

Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

February 3, 2020

Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di...

December 16, 2019

SAD KERTI

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Panca Maya Kosa

May 1, 2019

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.