• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Pengetahuan dan Informasi

Merah Putih Bukan Sekedar Berani dan Suci

by Admin FSM November 16, 2020
November 16, 2020
Merah Putih Bukan Sekedar Berani dan Suci

Bendera merah putih, yang kerap dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih, bukan hanya bendera namun dia adalah simbol kehormatan & perjuangan bangsa Indonesia. Kehormatan yang harus dijaga oleh seluruh bangsa Indonesia tanpa terkecuali.

Ketika itu, Fatmawati sedang mengandung anak pertama, Guntur Soekarno Putra. Mantan ibu negara ini mendapat kain katun merah putih dari seorang perwira Jepang bernama Chairul Basri, pada Oktober 1944. 

Pemberian kain katun merah putih itu atas perintah Hitoshi Shimizu, kepala bagian propaganda Gunseikanbu.

Kain katun itu awalnya akan dibuat baju untuk anak pertama. Fatmawati saat itu berinisiatif menjahit kain katun merah putih itu menjadi bendera pusaka untuk dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan. “Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu,” kata Fatmawati, seolah-olah tidak percaya Indonesia akhirnya merdeka dan mempunyai bendera serta kedaulatan sendiri. Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1928. 

Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Bendera ini resmi dijadikan sebagai bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diproklamirkan dan resmi digunakan sejak saat itu pula. 

Warna merah putih terinspirasi dari warna panji Kerajaan Majapahit dengan sembilan garis merah dan putih. 

Bung Karno pernah berkata “Warna-warna itu tidak begitu saja diputuskan untuk Revolusi. Warna-warna itu berasal dari awal penciptaan manusia. 

Ovum seorang wanita berwarna merah, sperma  laki-laki putih. Matahari berwarna putih, bulan berwarna merah“. Selain itu, warna merah pun dikatakan melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih lambang jiwa manusia. Selain manakala manusia tanpa kulit maka yang tampak adalah merahnya otot dan putihnya tulang yg sama. Bahkan darahpun berwarna merah dan putih.

Seandainya Indonesia menjadi mercusuar dunia, merah putih akan menjadi simbol negara-negara bangsa di dunia.

Demikian pula halnya dengan Garuda Pancasila, menjadi simbol bagaimana manusia menampilkan dirinya sebagai cermin dari kehormatan bangsa itu sendiri. 

Nasionalisme adalah kecintaan terhadap tanah air dan bangsa yang mesti dimiliki oleh semua bangsa. Dalam semangat nasionalisme terkandung sikap bangga terhadap bangsa, sikap rela berkorban untuk bangsa dan negara, sikap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi/golongan.

Bangsa Indonesia bukan hormat kepada secarik kain. Bangsa Indonesia menghormati semangat para pahlawan, menghormati dan menghargai pengorbanan para pejuang, menghormati sikap nasionalisme dalam menjaga simbol, kedaulatan dan keutuhan NKRI. 

Tak ada yang boleh menodai dan merendahkan simbol negara. Penerus bangsa ini wajib turut serta meneruskan perjuangan para pahlawan dengan jujur, ikhlas, dan bertanggungjawab, serta mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif demi tercapainya Republik Indonesia sebagai Sang Saka Dunia. 

Penulis: Dharma Yudha – Forum Studi Majapahit


0 comment
0
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
Ritual Panekek Bali Dwipa di Lombok

Artikel Terkait

SAD KERTI

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Panca Maya Kosa

May 1, 2019

Kelahiran Yesus

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Panca Srada

May 1, 2019

Tri Rna

April 30, 2019

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.