Alam beserta isinya menjadi sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen, seperti manusia, hewan, danau, hutan, pegunungan, lautan, tanaman. Semua komponen harus bekerja sinergi untuk mencapai kesimbangan dan kualitas yang lebih baik. Salah satu komponen tak berfungsi maka akan berpengaruh terhadap komponen lain dan akhirnya mengganggu sistem secara keseluruhan.
Dalam konteks pembangunan dan memelihara lingkungan alam beserta isinya, Agama Hindu memiliki ajaran Sad Kerti, yaitu 6 (enam) upaya untuk menjaga hubungan kesucian dan keseimbangan alam semesta beserta isinya.
Sad Kerti juga dapat disebut sebagai konsep atau filosofi dalam membangun manusia dan alam. Tiga Kerti terkait pembangunan manusia adalah Jana Kerti, Atma Kerti dan Jagat Kerti, sedangkan Danu Kerti, Wana Kerti dan Samudra Kerti termasuk dalam konsep pembangunan sumberdaya alam.
- Jana Kerti, upaya untuk menegakkan kesucian atau keseimbangan pada diri kita sendiri. Hal ini dilakukan terutama untuk meningkatkan kualitas individu agar menjadi ideal. Dalam kehidupan sekala sehari-hari hendaknya kita dapat melaksanakan Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan selalu dilandasi dengan ajaran dharma. Secara niskala, upaya penyucian diri dapat dilakukan melalui penglukatan, meditasi, yoga dan sejenisnya sehingga dapat dicapai kemurnian Sang Sujati dalam diri kita. Apabila setiap individu dapat mencapai kesucian dan menegakkan dharma maka dalam tataran horizontal sesama manusia akan harmonis dan secara vertikal dengan Yang Maha Kuasa juga terjadi keharmonisan, keseimbangan dan kedamaian.
- Atma Kerti, upaya yang dilakukan untuk mensucikan atma atau sang jiwa yang telah meninggalkan alam material. Upaya ini dapat diwujudkan melalui Pitra Yadnya untuk membantu sang jiwa kembali pada posisi sesuai karmanya dan sebagai wujud bhakti kepada leluhur. Upaya ini juga dapat dilaksanakan dengan menjaga dan merawat tempat suci pura paibon, pura kawitan (soroh)
- Jagat Kerti, upaya untuk menjaga kesucian dan keharmonisan antar semua makhluk. Sebagai makhluk sosial, manusia yg juga diberikan kelebihan akal dan budi memberikan contoh tauladan yang baik, toleransi, saling bantu, menjaga harmonisasi sosial dan berempati terhadap sesama. Dalam hal ini juga dilakukan dengan menjaga habitat hewan liar untuk mencegah kepunahan. Secara niskala, jagat kerti perlu diamalkan melalui upacara bhuta yadnya, misalnya dengan menghaturkan segehan, pecaruan yang bertujuan untuk harmonisasi alam semesta untuk mencapai kedamaian.
- Wana Kerti, upaya untuk menjaga kesucian dan kelestarian hutan dan pegunungan. Sebagai salah satu sumber kehidupan hakiki, hutan sebagai sumber oksigen dan bahan baku produksi serta tempat hidup dan perlindungan hewan sudah seharusnya lestari agar kehidupan yg terkait dapat berlanjut. Eksploitasi yang berlebih terhadap sumber daya hutan ini tanpa mempertimbangkan daya tumbuh kembali terhadap habitat yang ada maka akan merusak ekosistem yg ada. Untuk itulah perlu kebijakan yang arif dalam pengelolaan sumber daya hutan dan pegunungan.
- Danu Kerti, upaya untuk menjaga dan menyucikan sumber-sumber air tawar, seperti danau, sungai dan sumber-sumber mata air lainnya. Air menjadi kebutuhan sangat vital bagi semua makhluk hidup dan sebagian besar tubuh makhluk hidup terdiri atas air. Untuk menjaga kelangsungan hidup bagi setiap makhluk hidup maka air menjadi komponen sangat penting dalam siklus hidupnya. Ketersediaan air dalam kuantitas dan kualitas tertentu wajib terpenuhi. Untuk menjaga keberlanjutan makhluk hidup maka sumber air perlu dijaga dan dilestarikan dengan baik. Upaya yg dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian air, misalnya dengan menghemat penggunaan air, tidak mencemari sumber mata air dan melaksanakan upakara serta pelestarian pura beji dan ulun danu.
- Samudra Kerti, upaya menegakkan kesucian dan kelestarian laut dan isinya serta pantai dan lingkungannya. Jika kita berada di laut menikmati indahnya pemadangan laut maka disisi lain kita juga harus berpikir bagaimana menjaga kesucian dan kelestarian laut agar dapat dinikmati keindahan dan isinya secara berkelanjutan. Maka dari itu, secara sekala kita tidak boleh mengotori laut, seperti jangan membuang sampah, limbah ke laut yg berdampak pada biota laut dan kebersihan pantai secara kasat mata. Upacara penyucian pantai dan laut juga dapat dilakukan melalui upakara penyucian laut, melestarikan dan memuliakan pura segara.
Keenam upaya di atas harus dilakukan secara simultan agar keseimbangan sistem alam ini bisa saling bersinergi untuk mencapai Jagaddhita, gemah ripah loh jinawi
Oleh Prof. Dr. Ir. I Ketut Satriawan, M.T.,