Dua pekan setelah ke Jawa, Forum Studi Majapahit (FSM) berangkat ke Lombok pada tanggal 25 – 27 Juli 2020. Kembali kami ber – 28 orang mesti melakukan test rapid demi perjalanan ini. Rombongan dipimpin Ida Rsi Wisesanatha dan didampingi Ida Bhujangga Rsi Nabe Putra Hari Anom Palguna dari Griya Tegal Cangkring, Jembrana.
Badan terasa segar kembali karena dinginnya air di kolam pebersihan suci Suranadi pada pagi hari pertama kami tiba. Rasa letih hilang setelah semalaman hampir tak bisa tidur di Ferry penyeberangan. Setelah menghaturkan puja di Pura Pebersihan, kami meluncur ke Pura Lingsar. Sebuah pura unik yg mewujudkan kesatuan umat Hindu dan muslim di Lombok. Watu Telu adalah nama tiga kekuatan yg dihormati bersama ( Jawa dgn Gunung Semerunya, Bali dengan Gunung Agungnya dan Lombok dengan rinjaninya )
Selanjutnya ke Pura Narmada. Kembali kita menyaksikan situs pemujaan kepada kekuatan Tiga yg bermakna filosofis banyak; Watu Telu, Tri Murti dan lain sebagainya. Leluhur nampaknya suka kalau kita menyambut mereka dengan tarian jiwa selain bermakna anugrah penyelarasan penyatuan jiwa terhadap alam semesta. Rombongan selanjutnya dengan semangat menuju ke Bale Petirtan Narmada yang diyakini oleh penduduk, airnya bisa membuat awet muda.
Pada malam harinya, kami menuju ke Pura Suranadi. Puncak acara Paneteg Jagat dilakukan disini. Ritual penurunan aksara suci Dewata Nawa Sanga dilakukan disini oleh wakil 9 orang yang ditunjuk langsung oleh Dewata. Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Petilasan Majapahit yang dipercaya sebagai situs pertemuan Pangeran Arya Pati – kerajaan Seloparang & Gajah Mada yang terletak di Sembalun. Situs tampak hancur dan tak jelas apakah hancur karena gempa yang lalu atau karena dihancurkan sengaja. Dari bentuk hancurnya, tampak lebih kepada penghancuran yang disengaja. Sayang sekali, situs yg bernilai sejarah perjalanan diperlakukan seperti itu.
Ritual Pitra Puja untuk mendoakan Leluhur dipimpin oleh Ida Rsi Nabe di situs tersebut. Spirit Hyang Gajah Mada turun dan pada kesempatan itu mengingatkan generasi muda terhadap nilai sejarah dan melanjutkan perjuangan demi nusa dan bangsa. Disana beliau mengajak kita semua untuk berikrar lebih cinta & berbhakti kepada negara.
Dalam kesempatan itu pula Ida Rsi Wisesanatha memberikan piteket untuk senantiasa eling menjaga kesucian diri berusaha menuju moksartham jagathita. Pada malam harinya kami diperintahkan kembali ke Pura Lingsar untuk diwejang oleh para Leluhur akan nilai-nilai kesucian dan perjuangan bangsa. Dikatakan bahwa bangsa ini sedang sangat membutuhkan pembangunan moral dan keyakinan akan diri sejatinya. (bud)
Nyoman Budiana















