Oleh Ida Rsi Wisesanatha*
Selamat….
Bangsa Indonesia sudah menyelesaikan hajat besarnya. Sebuah Pemilu yang pertama kali dilakukan serentak. Pilpres digabung dengan Pemilu legislatif. Mari ingat komitmen kita sebelum Pemilu ini benar2 tuntas. Bersama kita menjaga situasi agar tetap kondusif untuk kehidupan bersama yg berkualitas. Jaga perdamaian, jaga keteguhan hati untuk tetap berpartisipasi terhadap pembangunan Bangsa.
Kalau kemarin kita sibuk unjuk jari SATU dan DUA yang kadang saking semangatnya, ada yang kelewatan sehingga menunjukkan ambek nyinyir, sinis dan watak perang. Bahkan sampai2 berbohong, memfitnah dalam wujud hoax yang sangat masif. Lembaga resmi menghitung sampai ribuan hoax ( tipu2 & fitnah ) tercipta. Sebuah “Prestasi” yang sesungguh sangat memalukan dan menjijikkan di atas fakta di permukaan dimana masyarakat sedang semangatnya beragama.
Pemilu sudah berakhir. Tinggal menunggu hasil PENGHITUNGAN RIIL & RESMI dari KPU. Kita harus tetap berjiwa kesatria untuk menunggu saat itu. Semoga semua bisa berhati jernih sbgmn tuntunan Agama (apapun Agamanya ) yang mewajibkan kita untuk berada pada diri yg kasih, Rokhim dan memakai hati. Dengan harapan kita dapat berpikir, berucap dan berlaksana yang terbaik. Now…SAATNYA kita unjuk jari TIGA ?, setelah unjuk jari satu dan dua usai. Kenapa tiga ?
Saya ajak anda untuk menggunakan analogi Pancasila dengan urutannya. Satu, paradigma yang kemarin kita melihat bersama; ada semangat yang luar biasa untuk unjuk keagamaan yang kental dengan segala atributnya. Disini kita diingatkan jangan lupa sila yang ke Dua. Tak cukup hanya sila nomor Satu. Bahwa akan tak ada gunanya hanya berTuhan atau beragama saja, kalau berhenti pada tatanan atribut dan ucapan serta berteori saja. Sungguh akan percuma…akan berguna bagi hidup kita kalau ada pengamalan nyata dlm wujud amalan KEMANUSIAAN YG ADIL & BERADAB ? Sudahkah sikap kita adil kepada semua anak bangsa ? Sudahkah sikap kita beradab sehingga membahagiakan diri dan yang lain ?
Mari kita renungkan dengan nurani kita secara mendalam agar fair dan sungguh-sungguh !Nampaknya inilah renungan kita bersama sebagai hikmah yang sangat berharga sebagai anak Bangsa? Yes…apapun itu setelah ini semua, kita harus move on. Life must go on. Ke langkah sila kita yang ke Tiga. PERSATUAN INDONESIA. Stop berbelah unjuk jari ☝ atau ?. Saatnya bergulir ke unjuk jari ?. Mari kita kembali rekat BERSATU, fokus sebagai warga Negara yang baik. Kerja keras dan kerja smart. Hormati Pemimpin-Pemimpin kita dan simbol-simbol Negara. Harus tetap kritis namun elegan dan santun. Sikap kekritisan diarahkan tentu ke kepentingan Bangsa bukan ke kepentingan kelompok apalagi pribadi.
Mari kita songsong sila ke Lima yaitu KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA ( apapun Suku, Agama, Ras mu ) dengan tetap menjaga dinamika KERAKYATAN kita yg DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN. Disinilah ( di DPR dan DPRD ) kebijakan pembangunan digodok. Mereka sesungguhnya juga sangat bertanggung jawab terhadap Negara ini. Sayang unproportionally dalam dinamika Pemilu kemarin, mereka tampak tak banget disorot. Seperti kurang tanggung jawab karna porsi terlalu diarahkan ke Presiden ???.
Anyway, ….yuk let us back to work untuk berpretasi demi Bangsa !!! Jayalah Bangsa kita. Indonesia Jaya




