Sejak kecil,
Sosok Muhammad yang aku kenal adalah seorang nabi yang diteladani serta dicintai oleh umat Islam.
Sejak kecil, aku bersholawat kepada Muhammad.
Memuja serta memuji dan mendoakan beliau.
Perjalanan waktu seiring bertambahnya usia.
Seiring berjalannya sang waktu dalam kematangan jiwa dan pemahaman tentang Muhammad dan agama yang kuanut, semua jadi berubah.
Aku merasa…
Sosok Seorang Muhammad yang tertanam dibenakku adalah sosok suku bani Israil berhidung mancung, berwajah rupawan, berkulit kuning, berfostur tinggi nan gagah di tanah padang pasir nun jauh di negeri zazirah Arabiah.
Begitu banyak pertanyaan yang merentang di benak, siapakah sesungguhnya Muhammad?
Sebagai muslimah, Islam yang aku anut adalah ajaran yang penuh dengan doktrin yang memanatismekan pemikiranku kala itu.
Islam menjadikanku sebagai seorang berTuhan dengan berkacamata kuda.
Sepuluh tahun lalu, perjalanan sang waktu dan karma, menggiringku menyapa kehidupan pulau Dewata yang eksotis relijius.
Tatkala lapisan-lapisan karmaku mengelupas helai demi helai.
Tatkala lapisan karmaku mempertemukan dengan mereka yang membongkar doktrin dan melululantakan ketauhidanku yang keliru.
Pun membongkar pengetahuanku tentang sosok sang Muhammad, Rosulku.
Kecurigaanku bergulir.
Aku merasa Muhammad adalah leluhur wangsa nenek moyangku yang berkulit legam, berambut gondrong terkuncir, hidung yang tak begitu mancung.
Tapi siapakah yang mampu membuktikan kecurigaanku tentang muasal Muhammad?
Al Qur an, sebagai kitab yang disucikan dan menjadi pedoman ajaran Muhammad adalah bukan wahyu dan bukan di tulis Muhammad.
Wahyu Muhammad adalah sholat lima waktu.
Kecurigaanku makin deras bergulir, tetapi siapakah dan apakah yang mampu mengembalikan keyakinanku bahwa Muhammad seperti yang tergambar dibenakku dikala kecil?
Oleh Virgi Harsanah