Nama Majapahit memiliki kharisma dan daya magis yang besar derajatnya bukan saja kepada yang merasa keturunan bangsawan Majapahit namun kepada banyak warga Indonesia lainnya yang masih memiliki rasa ke-Indonesiaannya. Secara holistik ini bisa dilihat sebagai kehendak sejarah karena kita ketahui Majapahit memiliki benang merah karma pala terhadap kehidupan kini dan masa mendatang. Isu Majapahit akan bangkit setelah 500 tahun Sirna Ilang Kerta Ning Bumi, kutuk Sabdo Palon Nayogenggong…memberikan harapan dan semangat kepada yang percaya dan meyakininya untuk tetap bertahan sabar dengan tetap memelihara budi serta eling tidak ikut-ikutan merusak, tidak ikut-ikutan melupakan jati diri. Apakah memang demikian adanya, akankah Majapahit akan bangkit ? Dan kapan ?
Mari kita surfing ke sisi yang lain terlebih dahulu. Sebagai observer dan sadar sebagai keturunan spiritual Majapahit, saya memperoleh intuisi yang mengingatkan bahwa dalam mewadahi spirit Majapahit, jangan sampai mengelukan buta pada persepsi bahwa Majapahit adalah kerajaan yang penuh kejayaan saja serta glamor namun harus bisa melihat Majapahit secara utuh/ holistik.
Majapahit muncul lewat rekayasa alam dan tenggelam pula karena rekayasa alam. Disana ada proses utpeti, stiti dan praline. Dia adalah sebuah phase peradaban spesifik yang mendaki terus mencapai puncak kulminasinya setelah Pasopati dari Patih Ki Kebo Iwa/Kebo Taruna diserahkan kepada Patih Gajah Mada di Lembah Tulis. Ada perjuangan yang sangat penuh unsur kepahlawanan yang diperankan tokoh Gajah Mada. Ada jaman keemasan, ada aib dan keruntuhan yang menyedihkan disana. Di pusaran tengah kultur Majapahit tampak pengaruh paham keagamaan Shiwa Budha sebagai agama utama dan tingkatan spiritualitas yang sangat mumpuni yang bisa kita lihat dari jejak-jejak sejarah yang ada – walau kebanyakan terkubur tersembunyikan atau sebagian dihancurkan karena perubahan jaman.
Kepemimpinan Jaman Majapahit
Aspek kepemimpinan pada jaman Majapahit juga tidak dapat disimpulkan secara parsial sebagaimana misalnya disimpulkan dalam konsep Hasta Bratha atau 18 kepemimpinan Gajah Mada yang terkenal saja (Asta Dasa Kotamaning Prabu) atau motto Pekerti – Pakerti – Pakartinya dalam konteks euphoria mengelu buta kejayaan Majapahit, sebagaimana yang saya sarankan di atas namun lagi-lagi harus dilihat secara holistik, utuh satu paket apa adanya. Kita ketahui bahwa setiap jaman memiliki ciri khas serta gaya kepemimpinannya masing-masing.
Aspek kemimpinan pada jaman itu, apabila kita setuju melihatnya secara holistik, kita tidak bisa hanya menarik pelajaran dari aspek atau gaya kepemimpinan yang terdapat pada pemimpin-pemimpin yang sukses atau yang tercatat mampu membawa ke masa keemasan saja namun juga pada pemimpin-pemimpin yang kurang atau tidak sukses bahkan pada masa runtuhnya Mapajapahit.
Pula bukan pada posisi kepemimpinan puncak saja atau raja/ratu namun juga pada level di bawahnya, seperti Maha Patih, Patih, Kanuruhan, Adipati, para Arya, Tumenggung dan last but not least pada level rakyat yang menciptakan keadaan kewarganegaraan “citizenship”, di dalam diri warga/rakyat ada elemen memimpin diri dan mengelola diri sehingga bisa tercipta kultur kepatuhan yang menyatu dengan kepemimpinan dari Atas dan dapat menciptakan sebuah dinamika yang harmonis yang diidamkan bersama. Sehingga dapat dipahami bahwa jaman keemasan atau jaman kemerosotan karena pengaruh dan dinamika semua pihak kalau tidak mau skeptik mengatakan karena memang waktunya atau takdirnya.
Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa singkat kata, kepemimpinan yang mau tak mau hikmah yang kita peroleh adalah kepemimpinan yang menyeluruh sebagaimana pesan terkenal the founding father, BK ; Jassmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) atau pula disebut kepemimpinan holistik atau kepemimpinan spiritual. Ya, kepemimpinan spiritual dimana pemimpin tertinggi merupakan poros, pancer atau pusat dari kekuatan alam, keberadaan dan kebijaksanaan. Dipercaya bahwa Pemimpin spiritual adalah pengejawantahan dari para Dewa dan merupakan wadah wahyu dari Atas, Pemimpin yang memiliki kejiwaan yang iklas tanpa pamrih dan telah menyerahkan dirinya sebagai hamba Hyang Widhi. Memahami seluruh peran hidup; melaksanakan peran Kesatria Pinandita, memahami perdagangan bak Wesia dan melayani iklas serta kerja keras bak sudra. Mampu memahami dan mengelola ruang dengan taksu Shiwa Budha dan memahami WAKTU dengan karakternya.
Disini saya tidak akan membicarakan dan memperdalam masalah kepemimpinan secara spesifik yang sudah sering dibicarakan namun saya akan lebih konsentrasi pada elemen pemahaman waktu dan pengelolaan ruang yang dipengaruhi waktu serta pengelolaan keadaan ruang yang dibawa oleh sang waktu yang saat ini kurang diperhatikan sehingga kita dan para pemimpin kurang melakukan antisipasi karena masih kurang ngeh dengan pemahaman waktu.
Hidup Adalah Perputaran
Tiada yang tak berputar di jagat raya ini sehingga dikatakan bahwa hidup itu adalah perputaran. Black hole dikenal sebagai sentra perputaran itu di jagat raya. Sebaliknya ada phenomena bahwa perputaran pula menciptakan hidup. Daya listrik yang dapat menghidupkan tidak akan ada tanpa enerji putar sempurna dari 2 elemen yang berbeda kutubnya – plus minus
Keberadaan itu phenomenanya adalah Bhinneka Tunggal Ika (binnery of polarity) dimana binnery ini dikenal dengan Rwa Bhinneda; dan waktu membawa dan memiliki warna serta ciri khasnya sendiri yang juga berputar. Ruang dan waktu kalau dihayati adalah satu adanya. Perputaran ruang dan waktu adalah sebuah keadaan yang integral yang perlu dikenali dan dikelola sesuai dengan karakternya.
Ruang yang berputar sesuai masa dan keadaannya disebut waktu yang berputar. Perputarannya terasa tetap namun tanpa kita sepenuhnya sadar bahwa tidak ada ruang dan waktu yang tetap sama. Semuanya berubah, semuanya menjadi berbeda, akhirnya kita tersadar bahwa perubahan itulah yang kekal.
Kita merasa sangat mengenal perputaran siang dan malam namun pernahkah kita ngeh dan sadar bahwa siang dan malam kemarin tidak pernah sama dengan siang dan malam besok atau pada waktu yang akan datang.
Demikian juga terhadap perputaran minggu, bulan namun dengan tahun kita baru sadar bahwa ada yang bergerak maju yang dalam dunia astronomi disebut perputaran spiralik yang melintasi ruang cakrawala yang berbeda dari waktu ke waktu yang lain. Kalau Kita renungkan; ada sesuatu yang besar yang kita kurang sadari disini adalah perputaran jaman saking lamanya perubahan itu terjadi namun hanya dengan ber-jassmerah kita akan bisa lebih bijak serta mampu menghayati adanya perubahan jaman tersebut.
Saat Mana Kita Sekarang dan Kemana Kita Setelah Ini ?
Dalam konteks pemahaman waktu murni sebelum dihubungkan apa efeknya terhadap ruang, kita harus selalu sadar perputaran dan perjalanan waktu serta memahami karakter kondisi yang terjadi pada waktu-waktu tertentu tersebut terhadap ruang makro (alam) dan mikro (manusia).
Dapat kita kenali sebagai berikut bahwa saat ini adalah hari Minggu, tgl 11 bulan November 2012, musim hujan, jaman Kaliyuga, phase kehidupan Masain; dengan masing-masing spesifikasi dampaknya sesuai dengan telaah masing-masing individu atau wilayah ruang.
Kemana kita setelah hari Minggu, tentu mudah mengatakan bahwa besok adalah hari Senin. Pada saat ada pertanyaan kritis, apakah hari Senin besok sama dengan hari Senin minggu lalu, disini kita akan tercenung, tentu kalau kita teliti maka Senin besok akan beda dengan Senin Minggu lalu. Bedanya ? Tanggalnya berbeda. Sebagaimana saya jelaskan di atas sebagaimana perjalanan perputaran benda langit dimana kita seiring juga disana maka ruang cakrawala yang kita lintasi juga berbeda. Disinilah sebenarnya beda Senin besok dengan Senin minggu lalu, keberadaan ruang yang kita tempati berbeda sama sekali.
Demikian juga dengan musim hujan yang sekarang, apakah akan sama dengan musim hujan yang lalu ? Dengan panas yang meningkat dibandingkan sebelumnya tentu akan berbeda. Curah hujan akan meningkat karena penguapan yang makin tinggi. Perbedaan suhu yang lebih ektrim akan meningkatkan kecepatan angin sehingga akan ada potensi angin ribut dibandingkan sebelumnya.
Nah sekarang dalam konteks jaman, apakah besok jaman Kali Yuga masih akan berlangsung ? Sampai kapan ? Lalu kemana atau jaman apa yang akan dimasuki setelah jaman Kali yuga. Berdasarkan literatur, sehabis jaman Kali, maka akan masuk ke jaman Satya, setelah Satya Yuga akan masuk ke jaman Kerta yuga, lalu jaman Dwapara Yuga dan kembali lagi ke jaman Kali Yuga atau sepadanan istilahnya juga disebut Jaman Emas, Jaman Perak, Jaman Perunggu dan Jaman Besi. Kapankah kita akan masuk ke jaman Satya Yuga, nah inilah masalahnya. Mari kita observasi bersama di bawah ini. Demikian juga dengan phase kehidupan Masain yang kita kenal sebelumnya ada phase jaman Lemuria, Atlantis dan selanjutnya masuk ke phase jaman Masain seperti saat ini dimana manusia memadat dan “sedikit” sinar yang mampu masuk dan menyatu.
Apa sebenarnya yang Terjadi Saat Ini ?
Untuk dapat melihat dimana dan pada jaman apa kita tepatnya berada selain parameter waktu yang presisi seperti, jam, hari, bulan dan tahun maka perlu kita melihat gejala-gejalanya pada perubahan alam yang terjadi.
Sebagaimana pernyataan di atas bahwa hari ini adalah tgl 11, bulan November tahun 2012, jaman kehidupan Kaliyuga dan phase kemanusiaan Masain. Lebih tepatnya kita berada menjelang di tengah tgl 11, menjelang pertengahan bulan dan akhir tahun 2012. Lalu tepatnya untuk Kali Yuga, apakah kita berada di tengah atau di akhir Kali yuga. Literatur menyebutkan bahwa Kaliyuga telah dimulai 5200 tahun yang lalu tepatnya pada saat negeri Sang Krishna yaitu Kerajaan Dwaraka lenyap musnah dimakan tsunami besar. Bagaimana dengan phase kemanusiaan Masain, dimanakah saat ini tepatnya.
Mari kita lihat anomali-anomali yang terjadi di dalam masyarakat kita belakangan ini sejak tahun 1990-an yang kita anggap positif. Di masyarakat ada kesadaran yang merebak untuk lebih rajin sembahyang dan tangkil ke pura-pura. Isu-isu spiritualitas merebak. Kesadaran akan keleluhuran meningkat sehingga muncul berbagai klan, kelompok pretisentana, golongan dan lain sebagainya. Pula ada phenomena tiba-tiba banyak yang “ngiring Bethara”. Ada kejadian kesurupan massal maupun individu-individu yang marak dimana-mana. Proses dwijati sulinggih banyak yang bypass proses biasa dan langsung bisa. Banyak spiritualis yang bisa berbahasa modre. Lahir makin banyak anak-anak yang indigo dan lebih jenius dan tinggi badan yang lebih tinggi dari orang tuanya. Makin Banyak film-film international Hollywood yang berthemakan spiritual dan demam dunia gaib yang sangat digandrungi penonton yang dahulunya dianggap kampungan (Harry Potter, Lord of The Ring, Twilite, The 4th Kind, Paranormal Activity 1 sampai 4).
Di sisi yang lain, anomali-anomali yang dianggap negatif; korupsi semakin marak dan semakin parah, lebih dari 60 % Bupati dan Gubernur di Indonesia sebagai tersangka korupsi walau koruptor-koruptornya tampak rajin sembahyang, tampil agamis dan sering berada pada upacara agama. Rakyat sering ngamuk sebagaimana kita saksikan di berita-berita TV. Tawuran antar kelompok warga di masyarakat. Tawuran pelajar atau mahasiswa. Manusia semakin cepat marah/emosional/cepat tersinggung. Banyak penipu yang tampak spiritual. Banyak yang mau spiritual atau menuju spiritual tertipu. Organisasi hampir semuanya pecah, jangankan partai politik, organisasi kumpulan pendeta atau orang suci saja juga pecah, lihat PHDI dan amati para sulinggih yang memiliki klik kurang sehat satu atau kelompok satu dengan yang lain. Kasus-kasus paradox ini dapat membuat para pemerhati menjadi frustasi yang akhirnya sebagian menjadi acuh dan walau ada sebagian juga semakin keras berjuang.
Kasus-kasus yang disebutkan di atas banyak terjadi di lingkungan terdekat kita di Bali dan Indonesia namun sifatnya tetap di bawah tanah demikian juga di dunia luar dengan maraknya gerakan new age, gaia purification project dan lain-lain yang masih kalah liputannya dengan kemarakan ekonomi, politik dan bencana alam yang sesungguhnya adalah satu paket dengan transisi perubahan ini.
Ya, saat ini adalah jaman transisi; tiupan terompet sasangka sudah sayup-sayup terdengar untuk menandakan jaman baru akan datang yang saya yakini sebagai jaman Satya Yuga yang kita lihat “kebangkitan” diri sejati sudah mulai menampakkan cirinya (proses transformasi eschatological).
Bertemunya serta bercampur aduknya enerji gelap dan enerji dharma pada jaman transisi sekarang ini kira-kira dapat menjelaskan phenomena yang saling paradoksal di atas
“ Wali ikang jagat anyar meresik ikang buwana, lima kang urip satus kang tumbal ing pati. “ (ref. kitab Sasangka, FSM). Sabda ini kira-kira seirama dengan “ Wong Jowo tinggal separo, wong China tinggal sajodo” (ref. penggalan Kutuk Sabdopalon Nayogenggong yang menyebutkan bahwa Majapahit akan bangkit 500 tahun lagi).
Disamping semua gejala sosial kemasyarakatan(goro-goro sosial), kita mengamati juga bahwa goro-goro alam seperti; gunung meletus, gempa, tsunami, banjir, longsor, angin ribut dengan segala jenisnya meningkat tajam dan memakan banyak korban dari tahun ke tahun. Data terlengkap yang mencengangkan, kita dapatkan dari perusahaan-perusahaan asuransi.
Bagaimana menjelaskan hal-hal di atas ?
Satu Lingkaran perputaran benda langit pada Cakrawala di angkasa pada sebuah galaxy dibagi empat wilayah. Masing-masing wilayah ini memiliki kandungan gelombang kosmik yang berbeda-beda dan dibatasi oleh garis photon (photon belt) yang mengandung gelombang elektromagnetik yang sangat tinggi dibandingkan cakrawala sebelum memasuki photo belt.
Hypothesis kami, saat ini bumi sedang memasuki garis batas photon belt yang kandungan gelombang elektromagnetik (GE) lebih tinggi. Ini bisa kita lihat dari gejala alam dimana suhu bumi meningkat (saat ini sudah meningkat 3 derajat dan diramalkan bisa naik sampai 6 derajat lagi sejak tahun 1990), walau kebanyakan ahli tahu ini namun karena kompleksitas masalah dan tidak ingin penduduk bumi panik maka efek rumah kaca dipakai sebagai kambing hitam. Makin panasnya suhu bumi akan berakibat langsung pada tingkatan penguapan, maka tingkat curah hujan akan meningkat tajam dan secara langsung berakibat pada makin banyak dan besarnya banjir dan tanah longsor. Akibat makin panasnya suhu bumi juga, gletser es di kutub Utara dan Selatan akan mencair dan berakibat akan naiknya permukaan air laut dan terbukti mengakibatkan “rob” seperti yang terjadi cukup ekstrim di Semarang dan Jakarta. Gejala ini juga pernah tampak terjadi di jalan airport Nusa Dua.
Makin meningkatnya kandungan GE, ternyata memiliki efek seperti alat pemanas micro wave dimana titik tengah perut bumi memanas dan enerji yang muncul menekan-nekan lempeng bumi. Gejala ini kita bisa amati belakangan dengan makin banyaknya gunung meletus, saat ini ada sekitar 20-an gunung yang makin aktif dengan status yang meningkat. Dengan memanasnya perut bumi maka permukaan bumi yang terdiri atas lempeng-lempeng terpisah ini akan bergejolak, gejalanya bisa kita lihat pada makin banyaknya gempa, tsunami bahkan sudah diramalkan dalam kitab Joyoboyo bahwa akan ada gempa 7 kali sehari. Kalau sekarang baru sekali dua kali sehari, namun peningkatan frekuensinya sudah dapat dirasakan akal sehat kita bersama.
GE yang meningkat, seperti kita amati juga menimbulkan badai matahari dengan Coronal Mass Ejectionnya (CME) yang sangat berbahaya bagi bumi. Pemerintah Inggris 2 bulan yl menyatakan bahwa puncak badai matahari akan terjadi pada akhir 2012 sampai 2013 dengan dampak yang susah diprediksi selebih dari yang kemungkinan diduga dimana pembangkit listrik, satelit bisa rusak parah dan dunia lumpuh sebagaimana pernah terjadi beberapa kali di Canada. Belum diketahui dampaknya terhadap manusia. Pemerintah Inggris menyatakan rakyatnya untuk waspada. Rakyatnya sepertinya kurang peduli dan terlebih rakyat dan pemerintah Indonesia yang masih naïf dengan isu seperti ini; dominan isu masih berkisar pada peristiwa kriminal korupsi dan peristiwa intrik politik.
Secara spiritual sebagaimana konsep pemahaman kita akan kesatuan makro kosmos (buana agung) dan mikro kosmos (buana alit); dimana dengan memanasnya perut bumi juga berakibat makin panasnya perut manusia pusatnya enerji manusia yang berakibat manusia makin cepat marah, ngamuk, emosi dan juga nafsu seksualnya makin naik. Ini yang dapat menjelaskan banyaknya phenomena tawuran, perkelahian dan unjuk emosi lainnya di masyarakat.
Bagaimana dengan bangkitnya kesadaran, transformasi ke spiritual terjadi (eschatological) ? Ini pula dapat dijelaskan dengan meningkatnya GE, penutup atau cangkang ego akan segera terbuka dengan “derita” perasaan sebagai efek meningkatnya masalah-masalah yang dihadapi manusia akibat meningkatnya nafsu seks, ego gelap kekuasaan/korupsi, meningkatnya amarah dan lain-lainnya. Kelahiran-kelahiran butha (elemen butha mengisi jiwa manusia lebih banyak pada jaman Kali yuga) yang merusak memuncak akan melahirkan dharma.
Kalender suku Maya yang disimpulkan bahwa tgl 21 – 12 – 2012 adalah akhir masa, saya curigai sebagai akhir Kali yuga dan awal mulainya revolusi menuju ke jaman baru yaitu Satya yuga. Almarhum Mama Lauren si peramal ulung yang terkenal ramalannya 80 % terbukti ( ref. Metafisika Club Jakarta) pernah mengatakan bahwa Indonesia akan masuk ke jaman Kerta yuga pada tahun 2012 dan melihat tahun ini sebagai tahun gelap. Dan dalam sarasehan Metafisika itu pula disebutkan bahwa revolusi ini dimulai akhir 2012 sampai 2 tahun ke depan (2014).
Hipotesis saya; dalam kaitannya dengan isu bangkitnya Majapahit sebagaimana versi legenda sabda Sabdopalon; momen transformasi jiwa (eschatological) yang berentetan dengan perubahan jaman dari Kaliyuga ke Satyayuga dalam waktu dekat inilah yang dimaksud dan perkisahan Majapahitlah yang menjadi wadahnya dan spirit Majapahitlah yang memperoleh hak untuk menuai karmanya pada kesempatan masuk ke Jaman Emas ini. Pula saat kebangkitan ini pulalah yang disebut Bung Karno sebagai munculnya Indonesia sebagai Mercusuar Dunia.
Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mengantisipasi Transisi Jaman ?
Wajar kalau orang normal akan ngeri menghadapi transisi jaman, lalu apa sebaiknya persiapan kita untuk menyongsong jaman baru ini ?
- Segera sadar, segera siuman, sucikan diri, muliakan diri serta seru sekalian alam, segera menjadi diri yang sejati; sadar diri, sadar peran dan lebih mampu memimpin diri.
- Open mind, kenali keberadaan dimensi ego yang satu dimensi dengan dimensi rasio lalu berupaya menyelaraskan ego.
- Waspada dengan apa yg dimakan serta dampaknya pada diri. Kurangi makan daging khususnya yang kaki 4.
- Banyak lebih menyatukan diri dengan Sang Sumber , sembahyang atau meditasi uang khusuk.
- Rasakan cinta kasih, rasakan damai dlm diri dan praktekkan dengan sadar sehari-hari
“Sinar-sinar kekuatan akan turun untuk melindungi orang-orang yang berada dalam dharma” (ref. Kitab Sasangka).
Sinar-sinar besar dan spirit-spirit besar saya amati sudah turun (walau mungkin belum semua, butuh penyelarasan) ke bumi dimana-mana namun sifatnya masih pingit. Apakah itu anda yang mewadahinya ? Bisa jadi….
Secara umum dan mendasar, berusahalah mencari makna serta rasa kunci dari Ongkara agar dapat tertuntun dan selamat menuju serta bebas dari pemusnahan itu sendiri.
Mari kita songsong jaman baru dan menjadikan diri kita baru pula….Om shanti shanti shanti Om….
[blockquote align=”none” author=”Albert Camus”]You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life.[/blockquote]
SPEND TIME WITH PEOPLE YOU LOVE
Oleh: Ir. Made Suryawan, MM, CHA
Gallery on Facebook
Semeton FSM melaksanakan Penglukatan dan Ikrar diri untuk dapat melaksanakan Swadharma berdasarkan Sang Jati yg ada…
Posted by Humas Fsm on Friday, January 13, 2017
1 comment
Luar biasa