Seperti kita ketahui, Singapura tercatat sebagai negara dengan pembangunan ekonomi amat mengagumkan. Selain sektor perdagangan, salah satu andalan negara kota itu adalah industri pariwisata. Jumlah wisatawannya berlipat dibandingkan Bali. Singapore tourism board merilis data jumlah wisatawan asing di tahun 2010 sebesar 11,6 juta. Di warsa yang sama, Bali hanya mencatat jumlah 2,4 juta orang. Ironis memang. Bali yang kaya aset pariwisata, namun tampak ”kecil” dibandingkan negara yang luasnya hanya 2/3 pulau Bali. Fakta ini sebagai bukti bahwa Singapura amat serius mengurusi sektor pariwisatanya. Kemampuan mengolah publisitas, menggodok promosi, serta mengelola destinasi wisatanya sungguh berkelas. Menurut saya, bukan langkah keliru bila kita mencontoh kejiwaan pelaku pariwisata di negara itu.
Saya yakin, pembaca Bali Tribun sudah tidak asing dengan Orchad Road yang membelah kota Singapura. Jalan raya sepanjang 2,2 kilometer itu seolah punya roh dengan daya pikat amat kuat, hingga para wisatawan merasa belum ke Singapura jika belum mengayun langkah di sana. Apakah kawasan itu punya ikon wisata yang menonjol? Tidak. Orchad Road hanyalah jalan raya biasa yang dijejali mall dan gedung-gedung tinggi yang berebut menuding langit. Daya tarik Orchad Road hanyalah rasa nyaman.
Trotoar selebar 6 meter yang mengapit jalan raya itu mampu menyusupkan rasa nyaman di benak siapa saja yang mengayunkan kaki di sana. Keadaan itu, sangat berbanding terbalik dengan trotoar jalan-jalan di Bali. Tak terkecuali di daerah wisata penghasil devisa utama seperti Kuta, Legian, Seminyak, Ubud, dan lainnya. Lebar trotoarnya rata-rata hanya 1,5 Meter. Di beberapa tempat, wajah trotoarnya malah amat memprihatinkan. Bolong-bolong, tidak rata, dan telah berubah fungsi menjadi tempat parkir sepeda motor. Apakah keadaan macam itu bisa menyuguhkan rasa nyaman? Untuk bisa menyerap rasa yang sesungguhnya, cobalah jadi “turis” di Kuta atau Ubud. Get the real feeling. Rasakan, bagaimana derajat kenyamanan plesiran di trotoarnya. Belum lagi ditambah deraan debu jalanan, serta bau asap kendaraan yang mengepul akibat lalu-lintas yang massif.
Bila jalanan Bali terkesan tak terurus, Orchad Road justru dipelihara serius oleh Pemerintahnya. Sebagian wajah trotoarnya dibedaki granit yang mewah, senantiasa tampak bersih karena di-vacuum debunya setiap pagi. Pohon penghijau di sepanjang jalan dirawat telaten. Asap knalpot kendaraan yang lalu lalang tidak mendera hidung karena uji emisi yang ketat. Di balik semua ini, yang paling pokok adalah keberadaan toko-toko retail, mall, restoran dan berbagai macam outlets yang dibuat genit dan menarik di sepanjang jalan. Mereka semua laris manis karena mood turis yang nyaman dan ceria. Ini semua karena efek sukses penataan Orchard Road. Tercipta sinergi antara swasta dan pemerintah. Pemangku kekuasaan negeri singa itu memang terkenal getol memfasilitasi gerakan swasta. Alhasil, ribuan turis bergembira ria di Orchard Road setiap harinya.
Orchard Road di Bali
Apakah Bali bisa punya jalanan sekelas Orchad Road? Tak ada yang tidak bisa bila kita memang serius mewujudkannya. Menurut saya, ada ruas jalan yang bila dirancang serius sedini mungkin bisa menjadi jalanan yang tak kalah dari Orchad Road. Jalan itu adalah Sunset Road. Berujung di jalan Raya Kerobokan sampai di Simpang Siur. Dari segi nama, Sunset Road punya nilai eksotis yang berdaya jual. Lebar trotoarnya, sangat memungkinkan untuk dibuat menjadi 5 – 6 Meter. Dibutuhkan penghijauan yang lebih berkelas. Kita pilih jenis pohon yang kuat, rindang dan punya ciri khas yang bisa berbunga indah dan khas. Seperti bunga Sakura yang sangat indah di Jepang. Pada musim bunga dapat menjadi daya tarik besar tersendiri. Jangan lupa membuat penyeberangan yang aman nyaman karena pejalan kaki perlu bisa dinamis dari jalan yang satu ke jalan sebelahnya . Patut menjadi catatan, bahwa saat ini jalan Sunset, By pass Nusa Dua dan Sanur, sangat tidak bersahabat karena absennya penyeberangan jalan yang aman.
Toko-toko, mall, restoran dan outlets lainnya akan otomatis menyesuaikan apabila Pemda memfasilitasi Sunset Road menjadi seperti Orchard Road. Saya yakin pemilik bisnis disana akan sangat senang dengan pemikiran ini karena bisa memberikan nilai tambah yang sangat signifikan dibanding keadaan kini yang kurang kondusif.
Yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah tempat parkir. Walau saat ini hampir semua entitas komersial disana sudah memiliki tempat parkir. Pada saat Sunset Road menjadi destinasi popular, akan dibutuhkan lahan parkir tambahan.
Partisipasi Pedagang di Sunset Road
Saya sangat yakin ide ini akan bisa terlaksana. Ide ini akan memperkaya diversifikasi destinasi Bali. Akan menarik jumlah kunjungan wisatawan untuk bertambah banyak lagi. Rekomendasi saya, para pedagang disana untuk segera membentuk Peguyuban. Selanjutnya, Peguyuban pedagang dapat menyempurnakan ide ini dengan pendekatan-pendekatan yang lebih praktis. Ditambahkan dengan thema-thema menarik masa kini yang berkelas dunia. Peguyuban juga perlu meyakinkan Pemkab Badung, sehingga nanti dapat bergandengan tangan dalam perencanaannya.
Selain itu, tentu dipahami bahwa tidak cukup penyediaan fisik saja. Jangan lupa, tugas penting lainnya adalah memasarkan destinasi baru ini. Sebagai destinasi brand new di Bali yang sangat layak untuk dikunjungi. Positioningnya akan sama dengan Orchard road di Singapura bahwa liburan di Bali akan kurang lengkap sebelum pernah ke Sunset Road. Apabila perencanaan kita serius, destinasi ini akan bisa menjadi sukses besar bagi bagi Bali. Tentu ini menjadi catatan tersendiri dan prestasi besar bagi Pak Bupati – a legacy. Mari kita dorong agar mimpi ini bisa terealisasi….Selamat datang di Sunset Road. the new hit of Bali Paradise.
Penulis: Sewaktu Walaka (Bapak Made Suryawan) IDA RSI ACHARYA WAISNAWA AGNI BUDHA WISESANATHA







