• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Pengetahuan dan Informasi

Musnahnya Sejarah karena Keserakahan dan Hoax

by Admin FSM April 23, 2019
April 23, 2019
Musnahnya Sejarah karena Keserakahan dan Hoax

Satu tabiat alami manusia adalah ingin berkuasa. Masalahnya, tatkala seseorang mendapatkan kuasa, dia bisa mengendalikannya dengan tangan kiri atau kanan, sisi gelap atau terang. Ada orang yang berkuasa dengan menindas orang lain, dan ada pula yang meraih kuasa karena kebajikan dan moralitas.

Apabila seseorang, suatu kelompok, atau bangsa mencapai taraf kekuasaan yang besar, dia menjadi penentu kebijakan dalam berbagai bidang. Akibat kemilau tahta, kalangan kecil sering terlupakan, dipaksa atau yang lebih parah, disingkirkan. Inilah yang berbahaya bagi kemanusiaan. Karena itu, ada hukum-hukum yang seharusnya membatasi kekuasaan seseorang atau suatu kelompok. Namun faktanya, hukum kerap menjadi seperangkat aturan yang dibuat oleh kalangan penguasa, demi kepentingan golongan penguasa.

Jadi, alur hasrat manusia berjalan secara alami seperti itu: setelah mendapat harta, dia punya kuasa. Setelah mendapat kuasa, dia ingin melakukan apa pun yang dia inginkan. Ini adalah manifestasi dari sifat binatang dalam diri manusia, yang mesti dikendalikan dengan tali kekang hukum yang kuat. Untuk mencapai taraf kekuasaan, manusia atau sekelompok manusia mesti menyisihkan kelompok manusia lainnya. Hanya itu jalan untuk mencapai kekuasaan di dunia ini. Bedanya hanyalah apakah jalan itu implisit (halus) atau frontal. Jalan frontal ya dengan perang, saling tembak. Siapa mati duluan, itu yang kalah,—persis pertarungan babon-babon memperebutkan mangga. Cara halus lebih laten lagi, dan akibatnya amat mengerikan. Cara halus ini sering tak terlacak,­­—bagikan air yang masuk ke dalam pasir. Tahu-tahu sudah basah. Tiba-tiba sudah dicaplok.

Juri Lina (baca, yu-ri li-na) adalah seorang peneliti konspirasi yang menulis buku fenomenal Architects of Deception, menjadi bestseller di Amerika Serikat dan daratan Eropa. Dalam buku itu dia menulis bahwa sadar atau tidak sadar, ada cara-cara halus yang sedang dikerahkan oleh para pemburu kuasa (architects of deception) untuk menghancurkan suatu kelompok masyarakat atau bangsa. Siapakah pemburu kuasa ini? Siapa saja yang ingin memerintah orang lain dari sisi gelap,—penuh nafsu, angkara murka dan loba. Pemburu kuasa ini bukan dari kalangan agama dan keyakinan tertentu. Samasekali bukan. Mereka hanya memanfaatkan agama sebagai kedok untuk menghancurkan sejarah dan tatanan luhur suatu bangsa.

Cara pertama untuk menaklukkan suatu bangsa adalah dengan cara mengaburkan sejarah bangsa itu. Lain kata, suatu bangsa mesti dibuat lupa pada sejarahnya, atau sejarahnya diubah total. Dengan itu, suatu bangsa atau kelompok masyarakat akan kehilangan jati diri. Saya mengambil contoh kasus Kesultanan Majapahit dan Gaj Ahmada yang fenomenal di jagat maya. Beberapa kelompok yang menamai diri mereka kelompok peneliti telah mengklaim lewat buku-buku tebal berlisensi dan lusinan tayangan YouTube bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam, dan Gajah Mada sejatinya adalah Gaj Ahmad(a) yang beragama Islam. Kemudian, ada kajian aneh tentang Borobudur dan Nabi Sulaiman. Ada-ada saja. Reaksi terjadi. Kemarahan berkobar. Banyak orang protes dan mengklarifikasi. Padahal, reaksi seperti inilah yang diinginkan oleh para pemburu kuasa, para architects of deception. Mereka sengaja ingin mengobok-obok masyarakat untuk kemudian diberikan doktrin palsu.

Bayangkan. Majapahit yang sudah nyata-nyata sebuah kerajaan Hindu, dengan bukti sejarah dan dokumen tertulis eksplisit yang tak perlu diragukan lagi, tiba-tiba diputar-balik 180 derajat menjadi sebuah kesultanan Islam. Banyak orang pasti menolak dan mencibir, tetapi hanya hari ini. Bagaimana jika dua puluh-tiga puluh tahun lagi, bukti-bukti otentik kerajaan Majapahit menjadi lapuk, dihancurkan, atau hilang? Apabila bukti-bukti otentik itu lenyap, dan yang tersisa hanyalah buku-buku sableng Gaj Ahmada dan Kesultanan Majapahit itu, maka generasi dua puluh tahun lagi akan otomatis mengingat Majapahit sebagai sebuah kesultanan Islam. Ikutlah mereka sableng.

Inilah cara kedua, yakni penghancuran bukti-bukti sejarah. Buku-buku yang dibuat di zaman ini bisa didigitalisasi dan awet hingga ratusan tahun kecuali server Google Drive diserbu nuklir. Sementara itu, bukti-bukti sejarah berupa lontar, naskah zaman kuno, arca-arca, prasasti dan sisa keraton sudah mulai lapuk atau sengaja dihancurkan. Anda bisa melihat banyak prasasti Hindu di tanah Jawa dan Sumatera digerus dan dihilangkan hurufnya, dicoret dengan piloks warna-warni, digiling sampai jadi pasir, atau dijadikan makam dan diimbuhi kesan angker. Tak hanya itu, generasi muda dibiarkan terlena dengan gadget yang dipelototinya hingga matanya berlumut. Tak pernah anak-anak diajak ke museum atau ke gunung-gunung, melihat keagungan dan kepintaran leluhur mereka di masa lampau, membangun kerajaan yang gemah ripah loh jinawi. Figur yang mereka jadikan contoh adalah Naruto dan Hokage, dan keajaiban yang mereka saksikan adalah Avengers. Huruf yang mereka pelajari malah huruf Jepang dan bahasa yang jadi prestise adalah bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia gaya lebay yang perlente.

Orang-orang Hindu di Nusantara ini, hingga detik ini, adalah orang-orang pilihan yang sesungguhnya kaya kebajikan namun pikirannya masih primitif-konservatif. Orang-orang Hindu di Nusantara yang didominasi kini oleh orang Bali tidak sadar bahwa mereka sedang duduk di atas bom waktu yang terus berdetak. Sementara orang Hindu ribut dengan sesama saudaranya, bagaikan ayam kampung yang saling usir kalau makan bersama, mereka tidak sadar bahwa bukti-bukti sejarah mereka telah dilenyapkan, baik disengaja oleh manusia maupun oleh alam, dijadikan bulan-bulanan terakhir oleh architects of deception, si pemburu kuasa.

Parahnya lagi, dalam setahun, manusia Bali (yang sebagian besar Hindu) hanya membaca rata-rata satu buku. Sementara itu, saudara kita di Jawa, sepuluh sampai lima belas buku dalam setahun. Komparasi seperti itu pastinya memberi gambaran pada Anda bahwa wawasan orang Hindu masih perlu ditingkatkan. Apa implikasinya? Wawasan orang Hindu tetap tertinggal, walaupun alamnya masih bagus dan senyumnya masih ramah. Orang Hindu masih saja ribut dengan saudaranya sendiri hanya masalah tata cara sembahyang yang berbeda sedikit, masalah vegetarian atau makan kambing, masalah warisan tegalan, sampai prahara saling tuduh ilmu hitam.

Apabila orang Bali, atau orang Hindu secara umum, tidak segera menyadari keterbelakangannya akibat terbuai aroma dolar bertahun-tahun, maka dalam tiga dekade ke depan, generasi Hindu di Nusantara akan benar-benar kehilangan jati diri. Orang Hindu di Nusantara ini, mesti dibuat sadar bahwa dia sedang duduk di bom waktu. Pilihannya hanya dua: pindah dari bom waktu itu, atau matikan bomnya. Kedua cara itu perlu pemahaman, perlu tindakan, perlu kesadaran.

Saat generasi muda Bali dan Hindu Nusantara kehilangan alur sejarahnya, kehilangan bukti-bukti sejarahnya, kehilangan jati dirinya, maka saat itulah Gaj Ahmada sableng itu muncul dengan buku-bukunya yang menyesatkan. Jadi, walaupun buku-buku itu kini menuai kontroversi, dua puluh tahun lagi, buku-buku gendeng yang sama bisa dijadikan sumber sejarah, sebab buku-buku ini kini dilindungi oleh kebijakan kalangan penguasa dan pemilik modal. Saat itu, tamatlah riwayat orang Hindu. Puput rahayu-lah riwayat kebudayaan Bali yang adalah warisan terakhir Majapahit. Game over.

Saat itu terjadi, barulah para pemburu kuasa ini melancarkan cara ketiga, yakni mendoktrin bahwa leluhur bangsa ini adalah orang-orang primitif. Akan ada kabar menyakitkan bahwa orang-orang Hindu masa lalu kerjanya hanya berperang memperebutkan wilayah kerajaan, perang saudara, takluk pada perempuan cantik dari Campa, kemudian orang-orang Bali pertengahan yang rajanya menjual budak ke Eropa demi sebungkus candu… dan segala kebusukan lain. Karena orang sudah lupa pada sejarah sesungguhnya, maka yang mereka percayai hanyalah segala tipu muslihat itu. Menanglah pada akhirnya si pemburu kuasa itu. Mental orang Bali, mental orang Hindu sudah mereka kuasai. Terserah mereka, mau diperbaiki atau dibiarkan gila.

Karena itu, orang Bali perlu kebenaran. Orang Hindu perlu kebenaran. Orang Hindu harus berhenti berkelahi dan menyadari bahwa jika bom waktu ini meledak, tidak akan ada yang tersisa. Entah dia vegetarian atau pemakan ayam buras, semua bakal hancur. Entah dia Vaisnava, pemuja Siva, pengikut setia Bhairava, semua akan hancur bila bom waktu deception ini meletup. Harus ada catatan mengenai kebenaran sejarah negeri ini. Lapuknya sejarah harus dilawan dengan wawasan yang benar. Orang Bali, orang Hindu mesti membuka wawasan, ikut mengingat sejarah agar dua puluh-tiga puluh tahun lagi masih ada catatan valid tentang kebenaran sejarah Hindu Nusantara dalam buku-buku, karya sastra, video dan sebagainya. Bukti-bukti sejarah leluhur Hindu tidak boleh sampai dimusnahkan dan diganti oleh pihak-pihak yang menginginkan tumbangnya kawitan orang Hindu.

Oleh ARYA LAWA MANUABA on APRIL 23, 2019

0 comment
0
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
10 Kepribadian untuk Hidup Berbahagia
next post
Asthangga Yoga

Artikel Terkait

Merah Putih Bukan Sekedar Berani dan Suci

November 16, 2020

SAD KERTI

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Panca Maya Kosa

May 1, 2019

Kelahiran Yesus

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Panca Srada

May 1, 2019

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.