Bali yang mayoritas warganya adalah umat Hindu yang mana Adat, Budaya, dan Ajaran Agama yang sangat erat, saling berkaitan dan melengkapi sehingga bisa di katakan Adat, Budaya dan Ajaran Agama yang menjadi satu kesatuan
Khususnya di Bali yang sangat kental dengan sesajen, atau banten salah satunya adalah banten pejati, pejati yg berasal dari kata “jati” yang artinya kesungguhan kita mengahturkan sesajen atau banten, apalagi di pertegad dengan awalan “pa” yang bisa di artikan lebih bersungguh-bersangguh menjalan upakara.
Dalam banten pejati ada 4 unsur yang paling utama, yang biasa di katakan Catur Loka Phala. Yang terdiri dari:
- Daksina yang di sebut juga dengan Yadya Patni yang artinya Istri/Sakti daripada Yadya
- Penyeneng banten yang jejaitan yang beruang 3 ada yang berisi beras, benang, dan nasi aon (nasi yang di campur abu dapur)
- Tipat kelan adalah lambang dari Sad Ripu,
- Sodan di gunakan untuk melengkapi daksina
- Pesucian secara umum bIsa dI katakan pesucian untuk mesuci suci
- Segehan
Segeh yang sama arti yang dengan sugehan atau menyuguhkan untuk Sang Buta Kala, segehan adalah lambang keharmonisan manusia dan Buta Kala
Banten Pejati biasa yang di haturkan pada:
- Peras = di persembahkan pada Sang Hyang Iswara
- Daksina = di persembahkan kepda Sang Hyang Brahma
- Tipat Kelan = di haturkan pada Sang Hyang Wisnu
- Sodan/Ajuman = di haturkan pada Sang Hyang Mahadewa
Oleh Wiwik Suryani






