Panca berarti lima dan Sradha berarti keyakinan. Jadi Panca Sradha adalah lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu.
Bagian-Bagian Panca Saradha:
1. Brahman atau di sering disebut Sanghyang Widhi yang menakdirkan dan menciptakan semua yang ada dimuka bumi ini. Kita percaya bahwa beliau ada, dan meresap di semua tempat, mengatasi semuanya dan beliau tidak ada duanya.
2. Atman atau sering disebut percikan terkecil dari sanghyang widhi dan atman berasal dari hyang Widhi yang memberikan hidup semua makhluk hidup. Atma atau Sanghyang Atma biasanya disebut dgn Sanghyang Urip yg menghidupkan hewan, tumbuh”n dan Manusia.
3. Karma (percaya dgn adanya hukum karma) Karma Phala berasal dari kata Karma yang berarti perbuatan dan Phala yang berarti hasil. Jadi karmaphala berarti hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Berdasarkan waktu diterimanya Phala dari suatu karma dibedakan menjadi tiga.
- Sancita Karma Phala: Perbuatan dimas lampau/kehidupan lalu pada kehidupan sekerang kita terima hasilmnya.
- Prarabda: Pebuatan sekarang sekarang juga kita terima hasilnya
- Kryamana: Perbuatan pada kehidupan sekarang belum habis diterima hasilnya maka akan kita terima dapa kehidupan yang akan datang.
perbuatan baik atau buruknya manusia atau seseorang akan memberikan hasil, tidak ada perbuatan sekecil apapun yg luput dari hasil atau pahala, kita percaya perbuatan baik atau sering disebut Subha karma akan membawa hasil yg menyenangkan atau baik, sedangkan perbuatan yg buruk atau Asubha karma akan mendapatkan hasil yg tidak baik atau duka.
4. Samsara (percaya dgn adanya kehidupan kembali) samsara disebut juga punarbawa yg artinya lahir kembali secara berulang”, kelahiran kembali ini terjadi karena atman masih di liputi oleh keinginan dan kemauan yg berhubungan dgn keduniawian.
5. Moksa = Moksa merupakan tujuan akhir yang harus diraih oleh setiap orang, yang sering juga di artikan bersatunya kembali Atma dgn Parama Atma di dalam Parama Siwa. Di alam moksa ini tidak ada kesengsaraan, yg ada hanya kebahagiaan yg sulit dirasakan dalam kehidupan di dunia ini (Suka Tanpa Wali Duka).
Oleh I Wayan Sukayana