• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Pengetahuan dan Informasi

Asthangga Yoga

by Admin FSM April 27, 2019
April 27, 2019
Asthangga Yoga

Asthangga Yoga merupakan teknik yoga yang terdiri dari delapan bagian atau tahapan. Tahapan-tahaan itu dimanfaatkan untuk mencapai tujuan orang hidup tertinggi, yakni penyatuan dengan Sangkan Paran. Jadi, tujuan hidup manusia adalah Yoga atau penyatuan itu sendiri. Asthangga Yoga tergolong sebagai teknologi atas sains Yoga. Agar orang mampu meraih penyatuan diperlukan piranti atau alat untuk itu. Dari semua piranti yang ada, astangga yoga adalah salah satu piranti yang telah baku, rigid dan sistematis. Sebagai kategori teknologi bhatin, piranti ini termasuk sangat matematis. Artinya, siapapun orang yang melakukan kedelapan tahapan ini dengan benar, maka hasilnya akan pasti sebagaimana yang disebutkan. Adapun kedelapan bagian tersebut adalah yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan Samadhi.

Yama adalah pengendalian diri tahap awal, fokus bagaimana memperlakukan dunia sekitar, terdiri dari lima bagian, yakni ahimsa, satya, asteya, brahmacharya, dan aparigraha. Ahimsa artinya tanpa kekerasan baik melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Satya artinya kebenaran, tidak melenceng dari hukum rta maupun dharma. Asteya artinya tidak mencuri, yakni tidak mengambil barang orang lain dan tidak mengambil lebih dari apa yang diperlukan. Brahmacharya artinya pengendalian nafsu dan selalu terhubung dengan Brahman. Dan, aparigraha artinya tidak serakah, selalu puas dengan apa yang diperoleh dan dimiliki.

Niyama adalah pengendalian diri tahap lanjut, concern dengan internal diri dan merupakan basis dari praktik Yoga. Jumlahnya ada lima, sebagai berikut: saucha, yakni kemurnian, kesucian, kebersihan. Ini menyangkut kemurnian badan, pikiran dan lingkungan, juga masalah hygiene, diet dan menghindari pikiran negatif. Santosha, yakni selalu puas dalam pikiran. Tapa artinya hidup sederhana, mampu menghadapi semua masalah, tidak menyerah dalam latihan. Svadhyaya artinya studi diri, studi tentang diri sendiri, tentang pikiran dan berbagai hal yang menghalangi pencapaian keheningan pikiran. Dan, Ishvarapranidana artinya penyerahan diri kehadapan Tuhan sampai diri benar-benar kosong.

Asana artinya postur badan. Awalnya menurut Sutra Patanjali artinya postur tubuh atau duduk yang nyaman untuk pose meditasi. Kemudian, belakangan ketika hatha Yoga berkembang, postur ini berkembang banyak baik yang berdiri, duduk, telentang, melengkung ke depan maupun melengkung ke belakang. Hatha Yoga Pradipika pada abad ke-15 mengindentifikasi postur atau asana berjumlah 84 buah dengan mengikuti bentuk-bentuk hewan, pohon, dan benda-benda alam lainnya. Modern Yoga kemudian memadukan Hatha Yoga dengan gerakan-gerakan kebugaran lainnya.

Pranayama artinya perpanjangan kekuatan hidup dan secara teknis berarti control atau pengaturan nafas. Ada tiga bentuk latihan pranayama secara umum, yakni puraka (menarik nafas), kumbhaka (menahan nafas) dan rechaka (mengeluarkan nafas). Hatha Yoga Pradipika adalah teks kunci yang menguraikan berbagai jenis pranayama dan teknik mengerjakannya. Beberapa jenis pranayama seperti Ujjayi, Bhastrika, dan Kapalabhati, Anuloma viloma dan yang lainnya.

Pratyahara artinya pengendalian panca indera, yakni menyatukan dan memasukkan panca indera ke dalam. Selama ini pancra indera kita senantianya bersentuhan dengan objek-objeknya. Inilah penyebab pikiran susah untuk diheningkan. Untuk itu diperlukan pengendalian panca indera tersebut dengan cara membalikkan arahnya dari keluar menuju objek ke arah dalam diri dan diam disana. Tahapan ini merupakan jembatan antara bahiranga (eksternal) sadhana (yama, niyama, asana, dan pranayama) dan antaranga (internal) sadhana, yakni dharana, dhyana dan Samadhi.

Dharana artinya konsentrasi pikiran. Pada saat ini pikiran diarahkan secara terus menerus menuju pada satu fokus. Pada saat ini pikiran memikirkan hanya satu objek dan melupakan yang lainnya dan kesadaran terhadap objek tersebut terus-menelur mengalir tanpa interupsi. Ini adalah tahap awal dari konsentrasi pikiran yang dalam. Pada tahap ini, objek meditasi, orang yang bermeditasi dan tindakan meditasi itu masih berbeda atau terpisah. Artinya, meditator masih menyadari dirinya sedang berkonsentrasi pada satu objek.

Dhyana artinya meditasi. Pada tahap ini pikiran telah betul-metul terpusat. Melalui latihan dharana yang panjang, maka tahap ini secara otomatis bisa dialami. Pada saat ini, aliran pikiran, kognisi dan kesadaran tidak mengalami interupsi. Pada saat ini pikiran sudah terlatih untuk selalu terpusat pada objek meditasi baik di dalam maupun diluar. Tahapan ini metidator tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan meditasi, tetapi sadar bahwa diri, pikiran dan objeknya eksis. Dengan latihan, proses dhyana akan mampu membangunkan kesadaran diri. Ketika tahap ini bisa diraih, maka inilah landasan orang untuk mencapai Samadhi.

Samadhi artinya kesatuan dengan objek meditasi. Pada tahapan ini tidak ada perbedaan antara tindakan meditasi dengan objek meditasi. Samadhi terdiri dari dua jenis sabija Samadhi (Samadhi dengan benih atau objek) dan nirbija Samadhi (Samadhi tanpa benih atau objek). ini adalah tahapan terakhir dari teknologi bhatin seseorang. Pada saat ini seseorang akan mampu menyadari diri sepenuhnya sebagai purusha.


Oleh Dr. I Gede Suwantana, M. Ag

 

 

0 comment
0
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
Musnahnya Sejarah karena Keserakahan dan Hoax
next post
Sad Ripu

Artikel Terkait

Merah Putih Bukan Sekedar Berani dan Suci

November 16, 2020

SAD KERTI

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Panca Maya Kosa

May 1, 2019

Kelahiran Yesus

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Panca Srada

May 1, 2019

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.