• Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Trending Now
MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
“ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA
PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN
Tri Rna
ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
FENOMENA KASTA DI BALI
Sad Atatayi
Garuda dan Pancasila
Sad Atatayi
MAJAPAHIT BANGKIT
Forum Studi Majapahit
  • Home
  • Profile FSM
  • Dharma Yatra
  • Pengetahuan & Informasi
  • Adat dan Budaya
  • Social Activities
  • Others
  • Contact
Pengetahuan dan Informasi

Tirta Mahutama Medal Ring Pelabuhan Padangbai

by Admin FSM April 8, 2017
April 8, 2017

Alunan genta memecah kesunyian malam yang mulai memeluk dunia, harum kepulan asap dupa masuk menusuk ke dalam cuping hidung. Sesaat dunia ikut tertunduk menerima sembah bhakti para bhakta yang memasrahkan diri pada takdir alam, menelisik tiap fenomena yang mengusik telinga, mencari kebenaran sejati meski dipandang judas dan hina. Dunia sudah hilang akan wajah murninya, dunia sudah hilang identitas aslinya, terpoles ke-modern_an yang kian memburamkan wajah asli dunia kita. Tak hanya teknologi yang terpapar habis, hingga kepercayaan pada pengetahuan hakiki pun ikut tertindas roda modernisasi, kita kalah, kita terseret arus hingga lupa pada pijakan di bumi. Ranting tempat kita berpijak kian rapuh, namun kita tetap kukuh menjadi penonton sekaligus sebagai pemeran dalam tarian jagat.

Kita lepas, terpeleset, jatuh, tergores, terkubur hingga kita lupa yang namanya bangkit!!!.. miris rasanya ketika kita tak pernah menyadari jikalau nektar yang kita hisap bukanlah sumber rasa manis, miris ketika kita tak pernah tahu jika empedu yang kita cecap bukalah pemberi rasa pahit pada jiwa kita. Kita salah menilai rasa, kita keliru menilai hidup, kita tak pernah tahu kita kehilangan arah di satu lingkaran yang itu-itu saja.

Kita kehilangan akal, tak bisa membedakan mana yang pantas dipuja dan mana yang pantas buang. Jiwa kita telah gelap, terpuruk jauh di kawah keangkaramurkaan, menguasai dari ujung kaki hingga ke ujung rambut di ubun-ubun kita. Pantaskah kita mengatakan itu hanya sekedar air jika itu turun dari langit yang tak kita tahu beratap dimana? lalu kita dengan manis mengatakan itu air hujan, sedang mendung sebagai ciri hujan tak nampak mata!!! Atau berhatikah kita menilai sebuah air yang ada begitu saja dengan pemikiran modern kita yang dangkal karena mata hati sudah tertutup rapat???

Bagaimana jika ketika kita tunduk berdiam diri menatap dunia kita lalu api menyembur menyambar tangan dan muka kita, apakah kita akan katakan itu hanya percikan api yang terbawa angin nun jauh disana,, tidakkah akal kita akan menampik,, betapa mengabunya dia ketika sampai ditangan kita, betapa padamnya bara itu melampaui jarak dan waktu hanya sekedar ada dihidup kita!!!

Kami orang pinggiran yang tak pernah minggir dari jalan kebenaran, kami kumpulan orang kecil yang tak pernah mengaku kecil jika membela dharma dan agama kami, kami buta pada arah, hingga kami gigih mencari lentera, walaupun akhirnya yang kami dapat Cuma sekerlip lilin nun jauh di depan, yang menuntun kami berjalan perlahan dan tertatih sambil berpegangan tangan. Dari kerlip lilin kecil itu kami belajar bertahan hidup, belajar membaca arah hidup kami, belajar menjaga tiap warisan yang telah ada dan belajar mencari tahu kebenaran sebuah fenomena yang dikirim olehNya.

Tengoklah kawan sebuah pura kecil ditengah keramaian orang. Pura yang bersinar hingga ke ujung belahan pulau ini, membawa aura magic yang kuat, menarik jiwa kami melebihi kekuatan magnetic alam yang mengumpulkan serpihan jiwa kami untuk tunduk mencium tanah di bumi PadangBai yang tak asing di telinga. Pura yang terlahir bukan karena mitos ataupun cerita konyol sebagian orang, pura yang menyodorkan air kemurnian yang malah ditampik oleh kekonyolan orang-orang sekitar. Pura Tirta Mahottama, adalah pura kecil di tengah-tengah pelabuhan PadangBai Karangasem.

Pura ini dibangun dan disungsung oleh beberapa orang, lantaran masyarakat sekitar menganggap air yang ada di lokasi itu hanyalah pipa bocor, yang kini jadi pertanyaan, jika memang itu pipa bocor sudahkah kita menambalnya? Adakah kendala masalah air dari pipa bocor itu? Jika memang iya kenapa didiamkan sekian lama? Kita terlalu picik, terlalu simple dan memandang diri selalu benar. Saudaraku terkasih, akal di ciptakan untuk berfikir dan menelaah, kenapa tak sekali kita pakai akal kita, kenapa tak ada kesadaran untuk mengasah akal kita biar semakin tajam?

Dinginnya malam, jauhnya jarak, panasnya bola mata menahan kantuk tak akan mengurungkan niat kita mencari tahu kebenaran dari Pura yang menyepi dikeramaian, malam itu menjadi saksi bisu jika betapa Tuhan begitu menyayangi umatnya, betapa Dia mengasihi umatnya yang mulai haus akan air surgawi. Teriakan demi teriakan Pemangku yang kerauhan tak bisa menutup-nutupi keberadaan dari Tirta Mahottama ini. Malam yang awalnya khusuk, sepi, hening, yang hanya ditingkahi suara alunan genta dan pujian suci, sontak terpecah dari salah satu sudut di dekat air suci itu. Merinding bulu kuduk, bergetar suara hati, detak jantung yang mulai tak normal seakan menjadi irama pengantar keyakinan kita akan keberadaan beliau.

“ nira ngelah tirtane ene,,, keturunan Mpu Sidhimantra,,, tirta luwih ne cening, mahottama tirta manirane”(saya yang punya air suci ini, keturunan Mpu sidhimantra, air suci ini anakku, sangat suci,bermanfaat air suci saya ini)

Berdesir darah diseluruh badan ini, merasakan setiap ucapan dariNya, bukalah mata hati kita saudaraku, basuhlah raga kita dengan air surgawi ini, mandikan jiwa kita pada keutamaan tirta Mahottama ini. Endapkan semua ego dan kedukaan lingkaran karma pada gemericik air suci ini, tumbuhkan benih kesucian pada tiap aliran air suci ini dijiwa raga kita.

Ia tak pernah meminta kita untuk memujaNya , Ia yang tak pernah memaksa kita untuk menghaturkan kemewahan, Ia yang selalu ada pada setiap doa kita ditengah-tengah kehausan akan surgawi, Ia pula yang menyiapkan apapun yang ego kita mau, Ia yang memanjakan kita yang tak pernah memanjakan Ia dengan lagu pujian, Ia yang merelakan Prabawanya menjadi pelayan umatNya yang tak pernah sekalipun iklas melayaniNya. Itulah Dia,, dia Tuhanmu dan Tuhanku,, Tuhan yang ada pada semua ketiadaan kita, Tuhan yang adil pada ketidak adilan kita, Tuhan yang mengasihi pada ketiadaan jiwa welas asih kita, Tuhan yang menyanggupi semua apa yang tak pernah kita tepati.

Kini ditengah gelap malam roda kehidupan, kita hendaknya menyalakan kerlip lilin dikejauhan itu dengan jiwa spirit kita, bangkitkan api cakra dibadan kita agar kita memiliki lentera yang menghindarkan kita dari ketersesatan, alirkan minyak kemurnian jiwa untuk tetap menyulut obor atman kita. Apa yang kita kejar kawan, hingga kita lelah, lemah, lemas, kehausan, kekeringan jiwa kian melanda, hidup kita pecah , akar pijakan kita rapuh, sedangkan air surgawi tersediakan di bibir doa dan pengharapan kita…Kembalilah kejalan Nya saudaraku, bersama kita pegangan tangan saling tuntun mencapai kekekalan abadi..

“yah sastra-vidhim utsrjya vartate kama-karatah, na sa siddhim avapnoti na sukham na param gatim” (orang yang meninggalkan aturan kitab suci dan bertindak menurut kehendaknya sendiri, tidak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan, maupun tujuan tertinggi)

shanti
14/06/2015
22.34. wita
NK TRISNA(ocha pinguin)

Gallery on Facebook

Sulit dilukiskan dengan kata-kata bagaimana menggambarkan keterpurukan negara ini sehingga para leluhur nusantara sangat…

Posted by Humas Fsm on Sunday, June 12, 2016

padangbaitirtha mautamatirtha medal
0 comment
0
FacebookTwitterPinterestEmail
previous post
Melukat di Pura Beji Batukaru
next post
Penganugerahan Prerai Ibu Durga dari Forum Studi Majapahit

Artikel Terkait

Merah Putih Bukan Sekedar Berani dan Suci

November 16, 2020

SAD KERTI

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Sad Atatayi

May 1, 2019

Panca Maya Kosa

May 1, 2019

Kelahiran Yesus

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Tri Hita Karana

May 1, 2019

Panca Srada

May 1, 2019

Leave a Comment Cancel Reply

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.


Artikel Terpopuler

  • 1

    MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI

    April 17, 2017
  • 2

    “ SATRIO PININGIT ” MENUJU PERADABAN NUSANTARA JAYA

    April 21, 2016
  • 3

    PENAMPAHAN GALUNGAN, GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015
  • 4

    Tri Rna

    April 30, 2019
  • 5

    ULASAN MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

    September 7, 2015

Kegiatan Sosial

  • Merawat Keharmonisan ALAM melalui Bedawang Yadram

    February 3, 2020
  • Tingkatkan Kualitas Diri, FSM melaksanakan Spiritual Retreat di Tirta Gangga

    December 16, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Penyu Selundupan Dilepaskan dalam Upacara Bedawang Yadram

    December 9, 2019
  • Paiketan-UNHI Teken Kerjasama Garap Lomba Arjuna Digital 2019

    March 16, 2019

Komentar Terbaru

  • Gede Suartika on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Made Yudiana on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Agung Ngurah Pradnya on MUNCULNYA FENOMENA BARU TENTANG SOROH DI BALI
  • Roadi on MAJAPAHIT BANGKIT
  • muammarriyadhi on Berkunjung ke Goa Selomangleng Tulungagung

Kategori

  • Adat dan Budaya
  • Dharma Yatra FSM
  • Informasi Lainnya
  • Pengetahuan dan Informasi
  • Profile FSM
  • Social Activities

@2026 - All Right Reserved. Forum Studi Majapahit.